Catatan Panjang Bus Malam

Di dalam bus, saya seperti berada di Mars. Asing dan sedih, yang disertai aroma kulit imitasi atau entah apa yang tidak saya suka. Membikin mual, meskipun saya belum memasukinya.

***

Ini adalah catatan yang panjang, seperti perjalanan 12 jam yang saya rasai lebih panjang dari seharusnya. Semoga kalian sudi membaca.

Sebulan sudah saya berada di Pacet dan pada akhirnya merindukan Yogya. Pada rumah di pinggir Kali Code itu; pada kamar sempit nan memanjang; pada ikan-ikan beserta tanaman di sudut hijau; pada Benji, gitarlele kesayangan. read more

Tidak Ada Kegagalan Atas Nama Perjalanan

Jalanan yang dulu berlubang, kini tampak mulus. Ladang tomat dan cabai kini berganti kacang panjang dan kubis karena musim. Puncak Gunung Gede dan Pangrango sepenuhnya tertutup kabut. Menyisakan jajaran cemara gunung di balik samar kabut. Sarongge, jam dua siang.

“Enak, ya, refreshing habis deadline,” seru Ika dari atas Hujan, motor Vega kesayangannya.

“Iya,” jawab saya singkat yang duduk menumpang di belakang.

Omong-omong soal deadline, saya sudah lupa bagaimana rasanya dikejar deadline. Maklum, pengangguran. Apalagi sedang pandemi seperti ini. Boro-boro deadline, proyek saja tidak ada. read more

Nostalgia Warung Mang Idi

Hujan belum juga reda. Rintiknya membasahi pakaian dan sepatu. Dingin udara pegunungan di antara kelok-kelok Jalan Raya Pos Cianjur menembus pelan ke kulit. Saya dan Ika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lepas berhenti cukup lama, berteduh dari hujan yang tiba-tiba datang menderas. Kalau saja bukan karena ingin mengulang kenangan, saya pasti enggan melakukannya. Sementara puncak Gede dan Pangrango tertutup kabut.

“Warungnya yang mana sih?” tanya saya ke Ika ketika kami sampai ke area parkir Kebun Raya Cibodas. read more

Akar dan Ranting

Jam dua dini hari. Sejak mematikan lampu kamar jam sepuluh malam, saya masih saja terjaga. Nyeri tak tertahankan terasa pada kaki kanan. Saya sadar, butuh bantuan kali ini. Dari kamar lantai atas, saya menelepon Ika yang berada di kamar bawah. Tersambung, tapi tak terangkat. Saya mengaduh dan air mata mulai menetes. Namun beberapa saat, telepon saya berdering. Dari Ika.

“Punya obat anti nyeri enggak?” ucap saya tersedu-sedu, “kakinya sakit banget.”

Cerita bermula dari satu hari sebelumnya. read more

Mandara di Balik Layar

Kata orang, menulis novel itu susah. Ia harus selesai. Dari cerita bermula, sebuah novel harus menemukan jawaban.

Menulis novel sudah menjadi impian saya sejak lama. Beberapa judul pernah saya tulis. Perjalanan solo trip Flores, pun cerita tentang persahabatan remaja layaknya AADC pernah ada di laptop. Sayang, mereka tak pernah berhasil sampai titik. Sampai akhirnya saya melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Gunung itu memberi kisah dan membukakan banyak sekali kebetulan. Seolah memberi jalan, bahkan mengantarkan saya pada sejarah keluarga, yang barangkali, tak kan pernah habis ditulis, dan Indonesia punya utang yang tak kan mampu dibayar. read more

Gadis Pelantun Ovos Omnes

Langkahnya cepat seperti berlari. Antara kaki kanan dan kirinya ia ayun pendek-pendek tapi cepat. Jantungnya berdegub cepat seperti seseorang remaja yang sedang jatuh cinta.

Ia memang sedang jatuh cinta. Namun jatuh cintanya itu bukan jatuh cinta biasa seperti kepada seorang pria. Ia baru saja meninggalkan Gereja Kathedral Larantuka setelah mendapatkan berita tentang dirinya yang terpilih menjadi pelantun Ovos Omnes atau nyanyian ratapan pada perayaan Jumat Agung di Semana Santa, sebuah tradisi menjelang Paskah yang rutin tiap tahun digelar di Larantuka, tahun ini. Maka ia tak sabar ingin cepat sampai rumah untuk memberitahukan kabar baik itu kepada neneknya. read more

Mimpi Bermula di Tunggilis

Kopi. Barangkali hanya ialah yang ingin saya pelajari. Bagaimana ia akan berbuah hijau lalu menguning lalu memerah dan matang. Ada cita-cita sederhana; tentang sebuah rumah kecil di tengah hutan kopi dengan pohon-pohon tinggi lain, yang ingin saya miliki, kelak.

Di Tunggilis, cita-cita itu bermula.

Taksi online yang kami tumpangi berbelok ke kiri dari Jalan Raya Puncak, menyusuri jalanan kampung nan sempit. Di beberapa sudut, warga yang sedang duduk-duduk di pinggiran jalan, terpaksa harus lebih menepi untuk mempersilakan mobil yang kami-saya, Ika, dan Mas Rey-tumpangi, bisa lewat. Tak terbayangkan oleh saya andai saja berhadapan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. read more

Merawat Pohon Adopsi di Kaliadem

Tarikh 2 Desember 2019.

Pagi masih dini bagi saya. Yogyakarta, jam tujuh pagi, ketika saya meluncurkan sepeda motor menuju Koperasi Mahasiswa Universitas Gajah Mada (Kopma UGM), tempat yang sudah disepakati bersama teman-teman Relawan Lindungi Hutan Yogyakarta, berjanji bertemu. Kemudian, kami akan bergegas menuju Kaliadem, tempat pohon-pohon adopsi yang ditanam pada Hari Bumi lalu.

Saya, bersama Hanif, Deni, Sekar, dan Hilmy, lepas sarapan di Kopma UGM, menyusuri Jalan Kaliurang menuju utara. Ketika tiba di Kilometer 14, kami berbelok ke arah timur, menuju Jalan Pamungkas lalu terus melaju ke utara, dan kemudian berhenti di kawasan wisata Kaliadem, tempat jip-jip lalu lalang menebar debu. read more

Janji Merapi Pada Sebuah Labuhan

Hamemayu Hayuning Bawono. Ia adalah sebuah nilai luhur yang dipegang oleh masyarakat Jawa untuk menjaga kelestarian dan keselarasan alamnya. Apa yang sudah dimuntahkan, semestinya dikembalikan. Bahkan ketika pohon dan ilalang terbakar oleh abu vulkanis, sang gunung akan menghijaukan kembali yang telah cokelat oleh unsur haranya. Maka, ambilah secukupnya agar alam yang hidup itu akan terus hidup.

Waktu menunjukkan pukul delapan pagi ketika saya tiba di Dusun Kinahrejo setelah melakukan perjalanan kurang lebih setengah jam dari rumah teman, Diena, di Rejodani. Saya sengaja menginap di kediamannya karena rumahnya itu dekat dengan tempat Labuhan Merapi digelar. Kehadiran saya adalah untuk menggenapi rangkaian acara Tingalan Jumenengan Dalem, yang hari sebelumnya dilaksanakan di Pantai Parangkusumo. read more

Ombak Hadir di Labuhan Parangkusumo

Barangkali ini tulisan yang terlambat.

Tarikh 6 April 2019.

Pagi itu, hampir setahun yang lalu, saya menyusuri jalanan yang membentang dari utara ke selatan menuju Pantai Parangkusumo. Meski waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi, tapi sinar matahari sudah menyinari Yogyakarta dengan ganas.

Saya berencana mengikuti satu acara yang rutin diadakan oleh Keraton Yogyakarta tiap tahun untuk memperingati Jumenengan Dalem atau peringatan naik tahta Sultan HB X sebagai raja Kesultanan Yogyakarta. Dulu, saat ayahandanya bertahta, Labuhan diadakan untuk memperingati Wiyosan Dalem atau ulang tahun Sultan HB IX sesuai dengan kalender Jawa. Lain itu pula, labuhan adalah satu tradisi kuno yang sudah dilakukan oleh masyarakat Nusantara sebagai lantunan puji dan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi atas alam yang melimpah. read more