Mimpi Bermula di Tunggilis

Kopi. Barangkali hanya ialah yang ingin saya pelajari. Bagaimana ia akan berbuah hijau lalu menguning lalu memerah dan matang. Ada cita-cita sederhana; tentang sebuah rumah kecil di tengah hutan kopi dengan pohon-pohon tinggi lain, yang ingin saya miliki, kelak.

Di Tunggilis, cita-cita itu bermula.

Taksi online yang kami tumpangi berbelok ke kiri dari Jalan Raya Puncak, menyusuri jalanan kampung nan sempit. Di beberapa sudut, warga yang sedang duduk-duduk di pinggiran jalan, terpaksa harus lebih menepi untuk mempersilakan mobil yang kami-saya, Ika, dan Mas Rey-tumpangi, bisa lewat. Tak terbayangkan oleh saya andai saja berhadapan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. read more

Rumah Pohon, Saksi Bisu Hutan Sarongge Melebat

Sarongge yang terik. Kami-saya, Ika, dan Mas Rey-melompat naik ke mobil bak terbuka, menumpang sampai ke pondok karyawan kebun stroberi, tujuan akhir mobil. Di hadapan kami, hamparan cokelat tanah ladang yang ditanami hijau, kuning, merah sayur dan buah. Jauh di sana, membentang Gunung Geulis, yang morfologinya seperti seorang perempuan tertidur. Sementara sudut lain, Gunung Gede dengan gelayut awan menutupi puncaknya.

Jalanan yang kami lalui berupa jalan mortar yang tidak rata. Bergelombang dan mengelupas. Wajar. Tiap hari, jalanan yang memiliki kontur itu dilalui mobil bak terbuka, mengangkut penuh hasil ladang. Di atas bak terbuka mobil tumpangan, kami duduk bergelinjang dengan pemandangan yang amatlah amboi. read more

Merawat Pohon Adopsi di Kaliadem

Tanggal 2 Desember 2019.

Pagi masih dini bagi saya. Yogyakarta, jam tujuh pagi, ketika saya meluncurkan sepeda motor menuju Koperasi Mahasiswa Universitas Gajah Mada (Kopma UGM), tempat yang sudah disepakati bersama teman-teman Relawan Lindungi Hutan Yogyakarta, berjanji bertemu. Kemudian, kami akan menggali menuju Kaliadem, tempat adopsi pohon-pohon yang ditanam pada Hari Bumi lalu.

Saya, bersama Hanif, Deni, Sekar, dan Hilmy, lepas sarapan di Kopma UGM, melewati Jalan Kaliurang menuju utara. Ketika tiba di Kilometer 14, kami berbelok ke arah timur, menuju Jalan Pamungkas lalu terus melaju ke utara, dan kemudian berhenti di kawasan wisata Kaliadem, tempat jip-jip lalu lalang menebar debu. read more

Restu Ibu di Halimun Salak

Kala pagi di Sukabumi. Suara senda gurau samar terdengar dari kaca mobil yang sedikit terbuka. Saya keluar dari mobil setelah tiga jam tidur. Arthur, Roro, Aliza, Pras, Ferry, Ros, Andri, dan Naufal, seorang pemandu, bercengkerama di sudut halaman rumput Villa Abah, Sukabumi.

Saya berjalan ringan mendekati sudut halaman itu yang kemudian disambut Roro dengan memperkanalkan Daffa, adiknya, kepada saya. Udara sejuk, tidak panas juga tidak dingin. Pemandangan indah terbentang di ujung lazuardi.

Lepas mempersiapkan segala peralatan, perlengkapan, dan logistik, kami memulai pendakian pada pukul 9.30 WIB. Terlambat dua setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, pukul 7.00 WIB. Jangan tanya kenapa! Karena pada hakikatnya, manusia boleh merencanakan tapi Tuhan punya kehendak. Ada amin, saudara? Itu pun kami memutuskan untuk menggunakan Rencana B ; berkemah di Pos 3 dan melanjutkan pendakian puncak pada keeseokan menuju harinya, karena kondisi Pras yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju Puncak Manik pada hari yang sama. read more

Ada Keberanian di Pangrango

Berjalanlah tanpa banyak risau, niscaya tanpa disadari, kakimu telah melangkah jauh, hingga akhirnya tiba di tempat yang kau tuju.

***

Ini adalah perjalanan dengan tim terbanyak pertama saya. 12 orang! Yang saya kenal hanya Roro, selebihnya tidak. Terlebih lagi, saya merasa tidak nyaman berada di tengah kelompok besar.

Lalu, mengapa harus takut memulai sesuatu yang baru?

Seseorang berkata, naiklah gunung bersama teman-teman dekat, yang sudah saling mengenal. Namun, teman-teman dekat saya jarang yang suka naik gunung. Kebanyakan mereka sudah menjadi orang tua dengan anak-anak yang menggemaskan. Giliran ada yang suka naik gunung, kami tinggal di kota lain. Susah memang, kalau usia sudah di ambang pertengahan tiga puluhan, belum nikah, dan punya hobi naik gunung. Jadi, ketika Roro menawari mendaki bersama teman-temannya, saya langsung berkata, “MAU!” read more

Misteri di Tanmatra Lawu

Ramuan terjadi dalam tejanya, yang keluar melalui kawah Candradimuka. Lawu embuskan misteri dengan prananya dan lalu terjadi di atas mandaranya, dan menjadi abadi di akasa.

***

Bola keemasan perlahan muncul dari balik garis biru dan merah muda langit. Enam pagi di Sendang Drajat. Rencana untuk mengejar matahari terbit ke puncak pada jam lima pagi, hanyalah mitos.

“Habis subuhan kita berangkat ya,” ucap Roro tadi malam.

Subuh kapan?

Saya berdiri di luar tenda. Sejenak menyaksikan sesuatu yang selalu diharapkan hadir ketika berada di gunung; Matahari. Ia bisa membuat gradasi warna indah pada punggung gunung. Ia bisa menyusup pada kabut dingin. Ia bisa melahirkan kembali jiwa yang lumpuh kerena lelah. read more

Tidak Ada Kebetulan di Lawu

Di base camp Cemoro Sewu, saya dan Roro dipertemukan dengan empat remaja ini, yang barangkali, jika hal itu tidak terjadi, perjalanan Lawu tidak akan seasyik ini.

***

Mobil putih milik Roro melaju perlahan di jalanan entah di mana. Aspal berlubang; kanan dan kiri ladang jati, yang batang-batangnya, melengkung-lengkung bagai deretan penjor.

“Ini di mana, Coy?” celetuk saya sambil membuat video untuk Instastory.

Seketika Roro semakin memelankan laju mobilnya sambil membuka kaca mobilnya, katanya, “Kalau tempat kayak ini sih enaknya buka jendela,” dan angin sejuk pun berembus. read more

Berjalan Sendirian di Tahura

Tidakkah kau tahu bahwa tidak apa-apa untuk sendirian? Kau bisa melakukannya sendiri . (Candy oleh Ash)

***

Ini adalah kali ketiga saya dan Bulan melakukan perjalanan. Setelah berhasil mendaki Rinjani dan melintasi persimpangan ke Sumbawa dua tahun lalu, tahun berikutnya Bulan bertanya kepada saya, “Tahun ini kita mendaki ke mana, Wid?”

“Gue belum pernah ke Bromo sih ,” jawab saya kemudian.

Alhasil, tahun lalu kami melakukan trip Bromo – Surabaya – Madura.

Tahun ini, sebenarnya saya tidak berencana untuk berpergian. Saya punya keinginan membeli laptop baru, untuk menunjang pekerjaan saya yang semakin berat. Saya pikir menjadi gila untuk sementara waktu karena perjalanan tidak akan menjadi masalah bagi saya. Aku merasa mampu menahan hasrat itu, pikirku. read more

Kotagede, Lorong Waktu Menuju Rahim Yogyakarta

Kotagede adalah persenyawaan masa silam dan kini. Yang silam dikenang sebagai pusat Kerajaan Hindu yang disulap menjadi Kesultanan Mataram Islam, tempat singgasana Panembahan Senopati bertahta. Tidak ada batasan yang jelas antara yang lalu dan kini. Tapi yang pasti, kota pusaka ini seolah menandakan peradaban modern terbit kemarin Legi.

***

Pagi ini Matahari menampilkan biru langit dengan bias-bias cahaya secara diam. Sinarnya membentuk bayang-bayang pada jalan, dinding bangunan, dan pepohonan yang sejak semalam tua. Saya melintasi jalanan menuju Kotagede, menyaksikan dan merasakan, bagaimana sinar itu mengubah gelap menjadi hidup secara gaib. read more

Ulang Tahun di Bukit Turgo

Pada awalnya, kami—saya dan Missika— berencana akan melakukan perjalanan ulang tahun ke Goa Langse, Parangtritis. Kemudian, dengan banyak pertimbangan seperti, lokasi yang jauh dan citra saya sebagai anak gunung agar tetap berdiri kokoh, kami memutuskan untuk merayakan hari jadi di Bukit Turgo. Bukit Turgo sendiri berada di Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, Daerah istimewa Yogyakarta.

Rencana itu juga tidak berjalan mulus. Rencana berangkat pada subuh untuk mengejar Matahari terbit, berubah menjadi jam sebelas siang. Jeda waktu yang jauh bukan? Namun, seorang Sagitarius akan tetap menjadi Sagitarius, meski banyak kendala, kami tetap manusia setengah kuda yang berkomitmen melakukan rencana pemburuan dengan membawa busur dan panah sampai titik darah penghabisan. read more