Buah Pikir Bernama Maniksaka

Buah Pikir Bernama Maniksaka

Selanjutnya sesudah ini kau boleh dipanggil Sang Yang Guru; dan menempatkan seluruh kepercayaan kepadamu, aku menyerahkan bumi dan semua dihubungkan kepadanya, dimanfaatkan dan diatur berdasarkan atas keinginan dan kesenanganmu.

Terjemahan Manik Maya.

***

Di buku sketsa besar saya menulis suatu nama. Maniksaka. Di bawah nama saya menarik garis, membaginya menjadi tiga bagian. Bagian kiri saya beri judul Akasa; tengah adalah Mandara; kanan bernama Sagara. Memetakan warna dan meraba aroma gunung, laut, dan nir-udara lalu menempatkannya di tiap bagian. Saya membuka buku lainnya yang lebih kecil. Buku bertuliskan daftar rimpang, batang, bunga, dan biji rempah yang telah saya pelajari manfaatnya. Di tiap bagian buku besar, saya tuliskan masing-masing dua rempah untuk menciptakan karakter yang sesuai dengan nama. Sebuah resep yang barangkali, bisa mengobati luka yang meradang di tubuh. Resep yang saya peroleh dari tutur leluhur. Resep yang, pula tersemat doa, semoga menyembuhkan. read more

Mengenal Gorontalo dengan Sepiring Ayam Bakar Iloni

Betapa mengerikan hidup tanpa makanan-makanan yang enak.” Soe Hok-gie.

Sebagai orang Jawa, pengalaman lidah saya atas gastronomi Nusantara begitu sedikit. Saya harus melampaui usia 39 tahun dulu baru bisa mengenal dan mengicip coto makassar di kota aslinya! Sungguh kasihan. Tidak tanggung-tanggung. Dalam lawatan (cailah, lawatan!) perdana ke Sulawesi Selatan, saya mendatangi Festival Ensiklopedia Pangan Olahan Sulselbar di Ford Rotterdam! Ya, namanya juga festival makanan, jelas saya makan! Ada olahan pisang barongko yang mirip dengan carang gesing di Jawa, bau peapi jepa yang bikin tambah nasi terus, dan kapurung yang membuat saya menyebut nama Tuhan yang jarang disebutkan. read more

Hilangnya Makna Perjalanan Kini

“dan di situlah aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda dalam hidupku, saat paling aneh, saat di mana aku tidak tahu siapa aku sebenarnya–jauh dari rumah, kelelahan, di sebuah penginapan murah yang belum pernah kulihat sebelumnya,”

Sepenggal peristiwa yang dialami Sal Paradise di buku On The Road mengingatkan saya pada perjalanan solo ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, 2012 silam. Memandang kosong dinding ivori penuh bercak karat bekas hujan sebuah penginapan di Kota Ende, lepas perjalanan darat menakutkan dari Moni, menahan tangis di tenggorokan, karena akhirnya keluar dari suatu ancaman. Musababnya, seorang kenalan pada pendakian Kelimutu, yang mengantarkan saya di perjalanan itu, sempat merayu untuk sejenak berhenti di pinggir jalan yang sepi. Pun berusaha menyentuh salah satu bagian tubuh. Saya berusaha keras menahan kantuk yang luar biasa agar tetap awas terhadap ancaman itu. Maka, ketika akhirnya tiba di penginapan, rasa lega hadir. Saya selamat, meski lalu merasa sedih karena berada terpisah oleh banyak pulau dari rumah. Sendirian. read more

Mandara di Balik Layar

Kata orang, menulis novel itu susah. Ia harus selesai. Dari cerita bermula, sebuah novel harus menemukan jawaban.

Menulis novel sudah menjadi impian saya sejak lama. Beberapa judul pernah saya tulis. Perjalanan solo trip Flores, pun cerita tentang persahabatan remaja layaknya AADC pernah ada di laptop. Sayang, mereka tak pernah berhasil sampai titik. Sampai akhirnya saya melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Gunung itu memberi kisah dan membukakan banyak sekali kebetulan. Seolah memberi jalan, bahkan mengantarkan saya pada sejarah keluarga, yang barangkali, tak kan pernah habis ditulis, dan Indonesia punya utang yang tak kan mampu dibayar. read more

Nyawa Bernama Namaku Pram

PSX_20180428_143603.jpg

Dada ini berdegup kencang ketika membaca kata demi kata cerita tentang Namaku Pram. Kisahnya sebagai manusia bagai botol di tengah lautan, terombang-ambing tiada arti. Bagi banyak orang, ia sampah hanyalah yang mengotori lautan, tapi untuk yang berada, yang lalu membuka tutup pada botol, mengambil kertas yang berada di dalamnya dan membacanya, ia adalah lentera.

***

Suatu siang, saya menyempatkan waktu untuk berkunjung ke ‘Namaku Pram: Catatan dan Arsip’, sebuah pameran yang diselenggarakan di Dia.Lo.Gue Art Gallery, Kemang, beberapa waktu lalu. Bukan tanpa sengaja, perihal Namaku Pram ini memang sudah saya jadwalkan secara khusus. Pram, buat saya adalah sosok yang ingin saya jumpai di masa yang akan datang. read more