Tidak Ada Kegagalan Atas Nama Perjalanan

Jalanan yang dulu berlubang, kini tampak mulus. Ladang tomat dan cabai kini berganti kacang panjang dan kubis karena musim. Puncak Gunung Gede dan Pangrango sepenuhnya tertutup kabut. Menyisakan jajaran cemara gunung di balik samar kabut. Sarongge, jam dua siang.

“Enak, ya, refreshing habis deadline,” seru Ika dari atas Hujan, motor Vega kesayangannya.

“Iya,” jawab saya singkat yang duduk menumpang di belakang.

Omong-omong soal deadline, saya sudah lupa bagaimana rasanya dikejar deadline. Maklum, pengangguran. Apalagi sedang pandemi seperti ini. Boro-boro deadline, proyek saja tidak ada. read more

Nostalgia Warung Mang Idi

Hujan belum juga reda. Rintiknya membasahi pakaian dan sepatu. Dingin udara pegunungan di antara kelok-kelok Jalan Raya Pos Cianjur menembus pelan ke kulit. Saya dan Ika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lepas berhenti cukup lama, berteduh dari hujan yang tiba-tiba datang menderas. Kalau saja bukan karena ingin mengulang kenangan, saya pasti enggan melakukannya. Sementara puncak Gede dan Pangrango tertutup kabut.

“Warungnya yang mana sih?” tanya saya ke Ika ketika kami sampai ke area parkir Kebun Raya Cibodas. read more

Mimpi Bermula di Tunggilis

Kopi. Barangkali hanya ialah yang ingin saya pelajari. Bagaimana ia akan berbuah hijau lalu menguning lalu memerah dan matang. Ada cita-cita sederhana; tentang sebuah rumah kecil di tengah hutan kopi dengan pohon-pohon tinggi lain, yang ingin saya miliki, kelak.

Di Tunggilis, cita-cita itu bermula.

Taksi online yang kami tumpangi berbelok ke kiri dari Jalan Raya Puncak, menyusuri jalanan kampung nan sempit. Di beberapa sudut, warga yang sedang duduk-duduk di pinggiran jalan, terpaksa harus lebih menepi untuk mempersilakan mobil yang kami-saya, Ika, dan Mas Rey-tumpangi, bisa lewat. Tak terbayangkan oleh saya andai saja berhadapan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. read more

Rumah Pohon, Saksi Bisu Hutan Sarongge Melebat

Sarongge yang terik. Kami-saya, Ika, dan Mas Rey-melompat naik ke mobil bak terbuka, menumpang sampai ke pondok karyawan kebun stroberi, tujuan akhir mobil. Di hadapan kami, hamparan cokelat tanah ladang yang ditanami hijau, kuning, merah sayur dan buah. Jauh di sana, membentang Gunung Geulis, yang morfologinya seperti seorang perempuan tertidur. Sementara sudut lain, Gunung Gede dengan gelayut awan menutupi puncaknya.

Jalanan yang kami lalui berupa jalan mortar yang tidak rata. Bergelombang dan mengelupas. Wajar. Tiap hari, jalanan yang memiliki kontur itu dilalui mobil bak terbuka, mengangkut penuh hasil ladang. Di atas bak terbuka mobil tumpangan, kami duduk bergelinjang dengan pemandangan yang amatlah amboi. read more

Restu Ibu di Halimun Salak

Kala pagi di Sukabumi. Suara senda gurau samar terdengar dari kaca mobil yang sedikit terbuka. Saya keluar dari mobil setelah tiga jam tidur. Arthur, Roro, Aliza, Pras, Ferry, Ros, Andri, dan Naufal, seorang pemandu, bercengkerama di sudut halaman rumput Villa Abah, Sukabumi.

Saya berjalan ringan mendekati sudut halaman itu yang kemudian disambut Roro dengan memperkanalkan Daffa, adiknya, kepada saya. Udara sejuk, tidak panas juga tidak dingin. Pemandangan indah terbentang di ujung lazuardi.

Lepas mempersiapkan segala peralatan, perlengkapan, dan logistik, kami memulai pendakian pada pukul 9.30 WIB. Terlambat dua setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, pukul 7.00 WIB. Jangan tanya kenapa! Karena pada hakikatnya, manusia boleh merencanakan tapi Tuhan punya kehendak. Ada amin, saudara? Itu pun kami memutuskan untuk menggunakan Rencana B ; berkemah di Pos 3 dan melanjutkan pendakian puncak pada keeseokan menuju harinya, karena kondisi Pras yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju Puncak Manik pada hari yang sama. read more

Ada Keberanian di Pangrango

Berjalanlah tanpa banyak risau, niscaya tanpa disadari, kakimu telah melangkah jauh, hingga akhirnya tiba di tempat yang kau tuju.

***

Ini adalah perjalanan dengan tim terbanyak pertama saya. 12 orang! Yang saya kenal hanya Roro, selebihnya tidak. Terlebih lagi, saya merasa tidak nyaman berada di tengah kelompok besar.

Lalu, mengapa harus takut memulai sesuatu yang baru?

Seseorang berkata, naiklah gunung bersama teman-teman dekat, yang sudah saling mengenal. Namun, teman-teman dekat saya jarang yang suka naik gunung. Kebanyakan mereka sudah menjadi orang tua dengan anak-anak yang menggemaskan. Giliran ada yang suka naik gunung, kami tinggal di kota lain. Susah memang, kalau usia sudah di ambang pertengahan tiga puluhan, belum nikah, dan punya hobi naik gunung. Jadi, ketika Roro menawari mendaki bersama teman-temannya, saya langsung berkata, “MAU!” read more

Berjalan Sendirian di Tahura

Tidakkah kau tahu bahwa tidak apa-apa untuk sendirian? Kau bisa melakukannya sendiri . (Candy oleh Ash)

***

Ini adalah kali ketiga saya dan Bulan melakukan perjalanan. Setelah berhasil mendaki Rinjani dan melintasi persimpangan ke Sumbawa dua tahun lalu, tahun berikutnya Bulan bertanya kepada saya, “Tahun ini kita mendaki ke mana, Wid?”

“Gue belum pernah ke Bromo sih ,” jawab saya kemudian.

Alhasil, tahun lalu kami melakukan trip Bromo – Surabaya – Madura.

Tahun ini, sebenarnya saya tidak berencana untuk berpergian. Saya punya keinginan membeli laptop baru, untuk menunjang pekerjaan saya yang semakin berat. Saya pikir menjadi gila untuk sementara waktu karena perjalanan tidak akan menjadi masalah bagi saya. Aku merasa mampu menahan hasrat itu, pikirku. read more

Sembuh Sekali Lagi di Gunung Gede

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa muncul di lautan, di gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.”

—Pramoedya Ananta Toer—

***

Ini hari Minggu. Mentari malu-malu menyibakkan malai-malai edelweiss yang bergerak menari, membentuk bayang-bayang di belakang tenda. Suara orang berbincang sederhana di luar ruangan, berusaha mencari kehangatan dari kopi pagi hari. Di dalam kantung tidur, saya berbohong tentang tenaga berbaring di kaki yang luar biasa. Meregangkan otot-otot yang sejak kemarin bekerja keras. Masih di Surya Kencana, di awal Juli. read more

Bunga Senduro di Surya Kencana

Jangan mengambil apa pun selain gambar.

Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki.

Jangan bunuh apa pun kecuali waktu.

-Organisasi Gua Baltimore-

Kata orang, Surya Kencana dan Mandalawangi adalah rumah terakhir untuk senduro. Di Bromo, bunga itu sudah punah. Kebiasaan dimakan oleh tangan-tangan jahil manusia yang memetik dan menaruhnya di pot dan diletakkan di sudut rumah. Ia juga pernah menjadi pengganti mawar sebagai lambang keabadian cinta. Rumahmu bukan rumahnya. Makanya, jangan pernah memetik senduro. Biarkan ia mekar abadi di rumahnya sendiri, di Surya Kencana. read more