Ada Keberanian di Pangrango

Berjalanlah tanpa banyak risau, niscaya tanpa disadari, kakimu telah melangkah jauh, hingga akhirnya tiba pada tempat yang kau tuju.

***

Ini adalah perjalanan dengan tim terbanyak pertama saya. 12 orang! Yang saya kenal hanya Roro, selebihnya tidak. Terlebih, saya merasa tidak nyaman berada di tengah kelompok besar.

Lalu, mengapa harus takut memulai sesuatu baru?

Seseorang berkata, naiklah gunung bersama teman-teman dekat, yang sudah saling mengenal. Namun, teman-teman dekat saya jarang yang suka naik gunung. Kebanyakan mereka sudah menjadi orang tua dengan anak-anak yang menggemaskan. Giliran ada yang suka naik gunung, kami tinggal di beda kota. Susah memang, kalau usia sudah di ambang pertengahan tiga puluhan, belum nikah, dan punya hobby naik gunung. Jadi, ketika Roro menawari mendaki bersama teman-temannya, saya langsung bilang, “MAU!” read more

Please follow and like us:

Perjalanan Menuju Dunia Tanpa Oksigen di Wot Batu

Mengapa batu?

Karena sebuah peradaban berawal dari batu dan akan begitu pulalah ia akan berakhir.

***

Wot Batu, sebenarnya tidak masuk dalam rencana perjalanan Bandung kami—saya dan Bulan. Saya menemukannya di mesih pencari daring, ketika kami bingung hendak ke mana lagi setelah dari Tahura.

“Dekat kok. Enggak sampai 1km,” ucap saya kepada Bulan. Maka bergegaslah kami menuju Wot Batu dengan sepeda motor sewaan.

Ihwal cerita mengenai Wot Batu:

Ini adalah sebuah karya dari perjalanan spiritual Sunaryo sebagai seniman. Pada mulanya ia kumpulkan beberapa jenis material alam seperti batu, semen, minyak, dan lainnya. Sang seniman kemudian berpikir, manakah dari material-material tersebut yang mampu merepresentasikan perjalanan spiritualnya. Hingga akhirnya ia memilih batu. read more

Please follow and like us:

Di Tahura, Janganlah Kau Takut Untuk Berjalan Meski Sendirian

Don’t you know it’s alright to be alone? You can make it on your own. (Candy by Ash)

***

Ini adalah kali ketiga saya dan Bulan melakukan perjalanan. Setelah berhasil mendaki Rinjani dan dilanjutkan menyeberang ke Sumbawa dua tahun lalu, tahun berikutnya Bulan bertanya kepada saya, “Tahun ini kita mendaki ke mana, Wid?”

“Gue belum pernah ke Bromo sih,” jawab saya kemudian.

Alhasil, tahun lalu kami melakukan trip Bromo – Surabaya – Madura.

Tahun ini, sebenarnya saya tidak berencana untuk berpergian. Saya punya keinginan membeli laptop baru, untuk menunjang pekerjaan saya yang semakin berat. Saya pikir, menjadi gila untuk sementara waktu karena tak bepergian tidak akan menjadi masalah buat saya. Saya merasa mampu untuk menahan hasrat itu, pikir saya. read more

Please follow and like us:

Sembuh Sekali Lagi di Gunung Gede

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.”

—Pramoedya Ananta Toer—

***

Ini hari Minggu. Mentari malu-malu menyibakkan malai-malai edelweiss yang bergerak menari, membentuk bayang-bayang di balik tenda. Suara orang berbincang sederhana di luar, berusaha mencari kehangatan dari kopi pagi hari. Di dalam kantung tidur, saya sekuat tenaga meluruskan kaki yang linu luar biasa. Meregangkan otot-otot yang sejak kemarin bekerja keras. Masih di Surya Kencana, di awal Juli. read more

Please follow and like us:

Bunga Senduro di Surya Kencana

Take nothing but picture.

Leave nothing but foot print.

Kill nothing but time.

-Baltimore Grotto Org.-

Kata orang, Surya Kencana dan Mandalawangi adalah rumah terakhir untuk senduro. Di Bromo, bunga itu sudah punah. Habis dimakan oleh tangan-tangan jahil manusia yang memetik dan menaruhnya di pot dan diletakkan pada sudut rumah. Ia juga pernah menjadi pengganti mawar sebagai lambang keabadian cinta. Rumahmu bukan rumahnya. Maka, jangan pernah memetik senduro. Biarkan ia mekar abadi di rumahnya sendiri, di Surya Kencana. read more

Please follow and like us: