Sebuah Risalah Tentang Mengarang Itu Gampang

Palmerah kali ini terasa berbeda. Angin malam berembus baik hati. Tersisa temaram purnama Bulan kamarin malam menemani lampu-lampu yang masih berpendar dari ruang-ruang gedung tinggi sebuah kantor berita. Suara laju kereta terdengar samar dari kejauhan berlomba bersama deru kendaraan yang tidak akan putus di Ibukota. Orang-orang lalu lalang, bercakap dan bersenda gurau. Saya berdiri di depan Bentara Budaya Jakarta, menunggu untuk bertemu seorang penulis idola, Arswendo Atmowiloto.

***

Di dalam Commuter Line yang tidak begitu ramai pada Jumat malam yang terasa istimewa, saya berusaha menutupi rasa antusias yang berlebihan karena tidak sabar ingin bertemu dan mendapat wejangan dari penulis idola saya itu. Ia yang kita kenal dari karya sinteron Keluarga Cemara akan mengisi sebuah loka karya yang diselenggarakan oleh Harian Kompas dengan tajuk Mengarang Itu Gampang.

Saya mengenal Pak Wendo lebih dalam melalui buku-buku yang ia tulis. Beberapa di antaranya seperti Dua Ibu, Horeluya, Kau Memanggilku Malaikat, Projo dan Brojo, serta Canting. Yang terakhir, adalah buku yang paling saya suka, buku yang saya beli di sebuah kios buku di pojokan TIM Jakarta. Cetakan pertama dengan kertas kuning kecokelatan dengan bau hampir lapuk.

Buku-buku Pak Wendo, kebanyakan saya baca ketika masih kuliah. Ada satu lorong di perpustakaan kampus yang menjadi favorit saya kala itu. Lorong dengan rak berisi karya-karya sastra Indonesia. Letaknya di pojok belakang menghadap jendela dengan satu kursi di sudutnya. Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, dan tentu saja karya Pak Wendo, adalah buku-buku yang mengisi waktu luang di kursi pojok ruangan itu. Saya ingat betul, Projo dan Brojo adalah buku perkenalan pertama saya dengan sang penulis.

Selain Pramoedya, Arswendo juga termasuk salah satu penulis yang pernah dipenjara pada masa Orde Baru. Beberapa bukunya ia tulis ketika berada di dalam bui. Begitu sulitnya bisa menulis pada jaman itu. Segalanya dibatasi. Berbahagialah kita bebas menulis apa saja saat ini.

Seorang teman menemani saya malam ini. Ketika kami masuk, ruangan sudah dipenuhi banyak orang. Kursi-kursi yang diletakkan terisi penuh, hanya tersisa satu bangku kayu panjang di deretan belakang di sudut kiri ruangan. Kami duduk di situ.

Terdengar suara samar yang berasal dari depan ruangan besar ini. Ialah Pak Wendo, berdiri tidak lebih dari sepuluh meter dari hadapan, berbicara bagaimana ia menulis.

“Seorang Agatha Christie bisa menemukan mood-nya ketika ia sedang berendam di dalam bath up sambil meminum wine,” ucapnya ketika menjelaskan tentang mood menulis itu bisa datang kapan saja dan di mana saja. Ia berkata kemudian, ketika ide-ide itu muncul segeralah untuk ditulis, jangan menunggu nanti atau esok. “Jangan tunggu basi.” ucapnya kala itu. Jangan juga terlalu malas untuk menulis sehingga ide atau mood itu hilang.

Saya sendiri termasuk orang yang masih suka malas. Memang benar, ide menulis itu datang tak menentu. Sering kali, ketika lampu kamar sudah padam dan mata sudah siap terpejam, tiba-tiba saja kata demi kata muncul di kepala. Kalau sedang rajin, bisa saja saya menyalakan lampu kamar dan mengambil buku catatan kecil lalu mencatat ide tulisan itu segera. Tapi jika malas melanda, ya sudah, hilang begitu saja karena esok pasti sudah lupa.

Begitu juga ketika sedang traveling. Sepatutnya, kita menulis setiap inci momen perjalanan. Agar nantinya catatan perjalanan bisa dibuat dengan detail, tanpa terlewat satu hal apapun. Saya juga teringat kata-kata seorang pembicara ketika saya mengikuti diskusi tentang menulis catatan perjalanan. “Kalau mudah lupa, harus rajin dan konsisten menulis.” kata pembicara kala itu. Tapi, di mana pun tempat dan waktunya, malas adalah musuh nomer wahid.

Pak Wendo juga bercerita bagaimana ia merekam memori dan menjadikannya itu tulisan. Baginya, semua memori baik untuk ditulis dan semua pengalaman bisa menjadi bahan cerita. “Jangan ragu untuk menulis ceritamu. Menulis ya menulis aja. Ga usah kebanyakan mikir.” ucapnya dengan nada guyon.

Saya jadi teringat seorang teman pernah bertanya kepada saya dari mana asalnya kenapa kok saya bisa nulis? Saat itu saya menjawab, “Dulu waktu sekolah tiap hari nulis buku diary. Curhat, hari ini ketemu gebetan atau tidak.” Jawaban itu kemudian disambut dengan tawa guyon kami.

Sampai sekarang pun, tulisan saya hanya berupa curhatan. Curhatan atas peristiwa demi peristiwa yang saya alami. Tentang sebuah catatan perjalanan. Perjalanan di sini bukan hanya soal traveling saja. Hidupmu adalah perjalanan.

Menulis, seperti bunga-bunga di taman rumah. Jika ia dipelihara, disiram dan diberi pupuk, ia akan memuai dan menjadi mekar. Ia akan menghiasi taman rumahmu dengan warna-warna indah. Tulislah segala peristiwa yang hinggap di dalam hidupmu, agar ia tidak hanya menjadi gundah menahun, tetapi agar segala peristiwa bisa dikenang. Syukur-syukur, bisa berguna bagi orang lain yang membacanya. Menulislah sampai terbiasa.

“Bagaimana memperbaharui sastra lama yang kemudian digabungkan dengan sastra baru agar tulisan bisa disukai oleh banyak orang saat ini, Pak?” tanya seorang peserta.

Pak Wendo, yang kali ini berdiri di sisi kiri panggung menjelaskan bahwa, tidak usah peduli dengan segala paten. “Langsung menulis saja. Tidak usah khawatir ada yang suka atau tidak. Pasti ada yang suka. Pasti!”

Ketika menulis ini, saya sedikut bingung hendak menulis apa mengenai isi loka karya malam itu. Isinya hanya guyon pembicara yang disambut dengan celetukan-celetukan peserta yang, sebagian, adalah teman atau kerabat Pak Wendo.

Sama seperti Pak Sapardi, bertemu dan berada di dalam satu ruangan yang sama dengan seseorang idola begitu membahagiakan. Rasa yang sebenarnya tidak bisa diceritakan sempurna ke dalam tulisan. Bisa bayangkan, seseorang yang selama ini hanya bisa kita baca karyanya, kali ini berada sepuluh meter di depan. Entah apa lagi kata yang bisa saya tuliskan kecuali bahagia. Benar kata Pak Sapardi, “Bahagia itu sederhana.”

Setiap orang yang menulis punya ciri khasnya sendiri. Setiap individu punya jalan cerita masing-masing. Setiap orang punya buku bacaan yang berbeda, yang mungkin saja, menjadi referensi menulis. Tulislah apa yang ada pada hidupmu, bukan orang lain. Ceritakan kisahmu sesuai dengan pribadimu, bukan orang lain. Jadikan menulis itu adalah jiwamu sendiri, sebaik-baiknya.

Seorang penulis, pasti membaca. Tetapi sebaliknya, bagi yang doyan membaca, belum tentu menulis. Kadang kala, ketika sedang tidak punya ide menulis, biasanya saya pancing dengan membaca. Kata-kata dalam buku yang saya baca, bisa memperkaya diksi. Itu akan memunculkan ide untuk menulis. Saya telah buktikan beberapa kali, sebuah kuncian.

Buku bacaan, terlebih novel, buat saya menjadi kamus atas banyaknya diksi yang bisa menjadi sumber inspirasi. Alur cerita dan penulisan situasi dalam novel yang ditulis sangat mengalir juga bisa menjadikan catatan perjalanan yang saya tulis menjadi lebih hidup. Tidak hanya berupa reportase atau tulisan informatif, tetapi juga bernarasi, membawa pembaca agar bisa ikut melihat apa yang saya lihat, menghirup apa yang saya hirup, mentransformasikan segara rasa yang saya alami.

Benar apa yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer, “Menulis adalah sebuah keberanian.”

Menulis bagi saya bukan hanya berupa menyambung kata demi kata agar menjadi kalimat, tetapi lebih kepada seberapa besar keberaniamu mencatatkan segala peristiwa yang terjadi. Menceritakan kepada orang lain, bagaimana ketakutan mengahantuimu di tengah ombak besar, bagaimana kekuatanmu mendaki sebuah gunung tinggi. Menulis adalah sebuah keberanian terhadap hidupmu sendiri yang akan tersimpan dalam lipatan-lipatan memori. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh, di kemudian hari.¹

***

Sementara di taman depan Bentara Budaya Jakarta, di depan bangunan Joglo, saya dan seorang teman, menutup malam dengan kopi. Lampu-lampu ruangan kantor berita masih menyala beberapa. Bulan sudah bergegas terus ke ufuk Barat. Deru kereta api listrik masih terdengar menggerutu bersama kendaraan lain di Ibukota. Lepas itu semua, saya kembali berjalan menyusuri Jalan Tentara Pelajar, Jakarta, menuju Stasiun Palmerah bergegas pulang. Membawa segala catatan yang telah kalian baca kali ini.

 

***

¹. Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa, halaman 84.

Please follow and like us:

6 thoughts on “Sebuah Risalah Tentang Mengarang Itu Gampang

    • September 15, 2018 at 2:19 pm
      Permalink

      Senang bisa berbagi.

      Reply
  • September 21, 2018 at 2:48 am
    Permalink

    Terima kasih infonya sangat membantu.
    Btw,, ada gak tips supaya cepat mengerti dengan karangan ?

    Reply
    • September 21, 2018 at 6:13 pm
      Permalink

      Perbanyak membaca.

      Reply
    • November 1, 2018 at 12:22 pm
      Permalink

      batasannya tema.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *