Mengukir Cinta Menuju Kalimati

Di sini, saya melihat bagaimana manusia menjadi manusia. Saling berbicang, membagi dan berbagi, menikmati alam dan menjaga agar tetap lestari, serta tidak lupa melantunkan puji untuk Sang Ilahi. Kalimati.

***

Pagi di Ranu Kumbolo . Mata saya terbuka oleh riuh sederhana suara manusia. Bayangan orang lalu lalang tampak samar-samar dari dalam tenda. Saya melihat ke arah pintu tenda, tampaknya pagi belum begitu menyenggitan panasnya. Saat saya bangun lalu membuka pintu tenda tadi, udara dingin gunung saya hirup secara dalam, membasahi segala kekeringan di dalam tubuh. Kata orang, momen Matahari terbit di Ranu Kumbolo adalah salah satu yang terbaik. Jelas, saya tidak mau melewatkannya. read more

Sembuh Sekali Lagi di Gunung Gede

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa muncul di lautan, di gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.”

—Pramoedya Ananta Toer—

***

Ini hari Minggu. Mentari malu-malu menyibakkan malai-malai edelweiss yang bergerak menari, membentuk bayang-bayang di belakang tenda. Suara orang berbincang sederhana di luar ruangan, berusaha mencari kehangatan dari kopi pagi hari. Di dalam kantung tidur, saya berbohong tentang tenaga berbaring di kaki yang luar biasa. Meregangkan otot-otot yang sejak kemarin bekerja keras. Masih di Surya Kencana, di awal Juli. read more

Bunga Senduro di Surya Kencana

Jangan mengambil apa pun selain gambar.

Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki.

Jangan bunuh apa pun kecuali waktu.

-Organisasi Gua Baltimore-

Kata orang, Surya Kencana dan Mandalawangi adalah rumah terakhir untuk senduro. Di Bromo, bunga itu sudah punah. Kebiasaan dimakan oleh tangan-tangan jahil manusia yang memetik dan menaruhnya di pot dan diletakkan di sudut rumah. Ia juga pernah menjadi pengganti mawar sebagai lambang keabadian cinta. Rumahmu bukan rumahnya. Makanya, jangan pernah memetik senduro. Biarkan ia mekar abadi di rumahnya sendiri, di Surya Kencana. read more