Selanjutnya sesudah ini kau boleh dipanggil Sang Yang Guru; dan menempatkan seluruh kepercayaan kepadamu, aku menyerahkan bumi dan semua dihubungkan kepadanya, dimanfaatkan dan diatur berdasarkan atas keinginan dan kesenanganmu.
Terjemahan Manik Maya.
***
Di buku sketsa besar saya menulis suatu nama. Maniksaka. Di bawah nama saya menarik garis, membaginya menjadi tiga bagian. Bagian kiri saya beri judul Akasa; tengah adalah Mandara; kanan bernama Sagara. Memetakan warna dan meraba aroma gunung, laut, dan nir-udara lalu menempatkannya di tiap bagian. Saya membuka buku lainnya yang lebih kecil. Buku bertuliskan daftar rimpang, batang, bunga, dan biji rempah yang telah saya pelajari manfaatnya. Di tiap bagian buku besar, saya tuliskan masing-masing dua rempah untuk menciptakan karakter yang sesuai dengan nama. Sebuah resep yang barangkali, bisa mengobati luka yang meradang di tubuh. Resep yang saya peroleh dari tutur leluhur. Resep yang, pula tersemat doa, semoga menyembuhkan.read more
Sarongge yang terik. Kami-saya, Ika, dan Mas Rey-melompat naik ke mobil bak terbuka, menumpang sampai ke pondok karyawan kebun stroberi, tujuan akhir mobil. Di hadapan kami, hamparan cokelat tanah ladang yang ditanami hijau, kuning, merah sayur dan buah. Jauh di sana, membentang Gunung Geulis, yang morfologinya seperti seorang perempuan tertidur. Sementara sudut lain, Gunung Gede dengan gelayut awan menutupi puncaknya.
Jalanan yang kami lalui berupa jalan mortar yang tidak rata. Bergelombang dan mengelupas. Wajar. Tiap hari, jalanan yang memiliki kontur itu dilalui mobil bak terbuka, mengangkut penuh hasil ladang. Di atas bak terbuka mobil tumpangan, kami duduk bergelinjang dengan pemandangan yang amatlah amboi.read more
Kala pagi di Sukabumi. Suara senda gurau samar terdengar dari kaca mobil yang sedikit terbuka. Saya keluar dari mobil setelah tiga jam tidur. Arthur, Roro, Aliza, Pras, Ferry, Ros, Andri, dan Naufal, seorang pemandu, bercengkerama di sudut halaman rumput Villa Abah, Sukabumi.
Saya berjalan ringan mendekati sudut halaman itu yang kemudian disambut Roro dengan memperkanalkan Daffa, adiknya, kepada saya. Udara sejuk, tidak panas juga tidak dingin. Pemandangan indah terbentang di ujung lazuardi.
Lepas mempersiapkan segala peralatan, perlengkapan, dan logistik, kami memulai pendakian pada pukul 9.30 WIB. Terlambat dua setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, pukul 7.00 WIB. Jangan tanya kenapa! Karena pada hakikatnya, manusia boleh merencanakan tapi Tuhan punya kehendak. Ada amin, saudara? Itu pun kami memutuskan untuk menggunakan Rencana B ; berkemah di Pos 3 dan melanjutkan pendakian puncak pada keeseokan menuju harinya, karena kondisi Pras yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju Puncak Manik pada hari yang sama.read more
Ramuan terjadi dalam tejanya, yang keluar melalui kawah Candradimuka. Lawu embuskan misteri dengan prananya dan lalu terjadi di atas mandaranya, dan menjadi abadi di akasa.
***
Bola keemasan perlahan muncul dari balik garis biru dan merah muda langit. Enam pagi di Sendang Drajat. Rencana untuk mengejar matahari terbit ke puncak pada jam lima pagi, hanyalah mitos.
“Habis subuhan kita berangkat ya,” ucap Roro tadi malam.
Subuh kapan?
Saya berdiri di luar tenda. Sejenak menyaksikan sesuatu yang selalu diharapkan hadir ketika berada di gunung; Matahari. Ia bisa membuat gradasi warna indah pada punggung gunung. Ia bisa menyusup pada kabut dingin. Ia bisa melahirkan kembali jiwa yang lumpuh kerena lelah.read more
Di base camp Cemoro Sewu, saya dan Roro dipertemukan dengan empat remaja ini, yang barangkali, jika hal itu tidak terjadi, perjalanan Lawu tidak akan seasyik ini.
***
Mobil putih milik Roro melaju perlahan di jalanan entah di mana. Aspal berlubang; kanan dan kiri ladang jati, yang batang-batangnya, melengkung-lengkung bagai deretan penjor.
“Ini di mana, Coy?” celetuk saya sambil membuat video untuk Instastory.
Seketika Roro semakin memelankan laju mobilnya sambil membuka kaca mobilnya, katanya, “Kalau tempat kayak ini sih enaknya buka jendela,” dan angin sejuk pun berembus.read more
Kotagede adalah persenyawaan masa silam dan kini. Yang silam dikenang sebagai pusat Kerajaan Hindu yang disulap menjadi Kesultanan Mataram Islam, tempat singgasana Panembahan Senopati bertahta. Tidak ada batasan yang jelas antara yang lalu dan kini. Tapi yang pasti, kota pusaka ini seolah menandakan peradaban modern terbit kemarin Legi.
***
Pagi ini Matahari menampilkan biru langit dengan bias-bias cahaya secara diam. Sinarnya membentuk bayang-bayang pada jalan, dinding bangunan, dan pepohonan yang sejak semalam tua. Saya melintasi jalanan menuju Kotagede, menyaksikan dan merasakan, bagaimana sinar itu mengubah gelap menjadi hidup secara gaib.read more
Tempat ini adalah Saksi bisu orang-orang yang bergelut dengan batinnya sendiri. Berpikir, apakah akan melanjutkan perjalanan atau tidak. Tempat ini juga sebagai tempat rebah bagi mereka yang telah pulang dari berjuang, di balik tenda-tenda.
Kalimati yang semula ramai, beralih sepi . Seekor Elang jawa terbang rendah di atas Kalimati. Beberapa rombongan pendaki mulai mengemas tenda dan peralatan masing-masing untuk melanjutkan perjalanan turun kembali ke Ranu Kumbolo. Kami masih bercakap di depan tenda, bersama beberapa pendaki lain, sambil menghabiskan semua makanan yang Tukul buat. Seperti mengamuk, ia memasak semua bekal makanan. Ia juga membagikan sayuran yang tidak termasak kepada pendaki lain. “Biar masuk!” Merujuk pada tas carry -nya yang seberat kulkas. Kalimati yang hangat.read more
Di antara kapas-kapas putih bergelantungan pada buaian biru angkasa, ada bola api yang mengintip dengan jarak lima ratus miliar kaki dari Bumi, yang dilihat dari tebing jurang yang curam. Saat ini hening, hanya saya dan ruang waktu.
***
Hari belum benar-benar berganti . Masih malam sebelas derajat yang sama. Saya akhirnya memutuskan untuk benar-benar bangun dari tidur, duduk di dalam tenda. Sedikit kesal, karena tidak bisa tidur, entah nergi atau tidak terbiasa tidur pegal. Padahal seharusnya saya tidur, memulihkan tenaga untuk summit . Apalagi setelah Tukul membuatkan susu jahe hangat pun tidak mempan. Jam sebelastigapuluh malam, persiapan menuju Mahameru.read more
Di sini, saya melihat bagaimana manusia menjadi manusia. Saling berbicang, membagi dan berbagi, menikmati alam dan menjaga agar tetap lestari, serta tidak lupa melantunkan puji untuk Sang Ilahi. Kalimati.
***
Pagi di Ranu Kumbolo . Mata saya terbuka oleh riuh sederhana suara manusia. Bayangan orang lalu lalang tampak samar-samar dari dalam tenda. Saya melihat ke arah pintu tenda, tampaknya pagi belum begitu menyenggitan panasnya. Saat saya bangun lalu membuka pintu tenda tadi, udara dingin gunung saya hirup secara dalam, membasahi segala kekeringan di dalam tubuh. Kata orang, momen Matahari terbit di Ranu Kumbolo adalah salah satu yang terbaik. Jelas, saya tidak mau melewatkannya.read more
Tidak perlu nama untuk sekedar berbagi. Datang dari berbagai negeri, duduk mengelilingi api unggun, berbagi cerita dan tawa tanpa syarat. Di depan sana, danau yang selalu berselimut kabut, Ranu Kumbolo, menemani kami di malam penuh bintang.
***
Warung masih kosong, pintu belum sepenuhnya terbuka, hanya satu daun. Kami—saya, tante saya Murni, beserta guide dan seorang kru dari Dome Explorers , Angga dan Tukul— duduk di kursi meja depan dapur, biar hangat dekat kompor. Pagi baru saja jadi, tetapi Matahari sudah puas. Sinarnya memantul dengan keras, memberi halo-halo pada kaca jendela. Kami memesan beberapa menu untuk sarapan. Tujuhbelas derajat selsius di Warung Bagus, Ranu Pani.read more