Perempuan dan Banyolan Laki-laki

Apa orang mengira dunia hanya milik lelaki? (Pramoedya Ananta Toer, 2006:435)

***

Tulisan ini akan saya mulai dengan cerita sebuah pengalaman pribadi yang dialami ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Suatu sore, ketika saya sedang bersepeda sendirian untuk membeli peralatan sekolah di toko dekat rumah, seorang laki-laki yang berjalan berlawanan arah, tiba-tiba menyentuh punggung lalu memegang, menekan, dan meremas payudara kanan saya. Ia kemudian berlari secepat kilat, menjauh. Seketika saya hanya berhenti, diam, tidak berbuat apa-apa karena tidak tahu apa maksud kejadian yang baru saja menimpa. Saya hanya menoleh ke belakang, melihat lelaki itu berlari mundur sambil tertawa menghadap ke arah saya. read more

Belajar Bersama di Rumah Kemang Pratama

Siapa bilang renovasi rumah itu mudah? Percayalah, membuat gambar rancang bangun dari lahan kosong lebih melegakan hati perancang dari appaun juga, termasuk impian bisa mencapai Annapurna Base Camp. Subhanallah.

Merenovasi sebuah rumah itu lebih sulit dibandingkan membangun rumah dari nol. Pendapat ini mungkin disetujui oleh banyak pihak yang bergelut dalam dunia arsitektur dan tetek bengek pertukangan lain bahkan klien. Pasalnya, selain renovasi membuat seorang perancang dan pekerja bekerja lebih terbatas, juga tidak ada jaminan juga memerlukan biaya yang lebih sedikit dibandingkan dari nol. Renovasi rumah memerlukan pekerjaan pembongkaran terlebih dahulu sebelum mulai meletakkan cakar ayam, dan pembongkaran itu ribet lho. Yakin! Selain hal-hal desain lain yang akhirnya tidak bisa terkabul karena kondisi eksisting bangunan, terbentur masalah teknis. read more

Kotagede, Lorong Waktu Menuju Rahim Yogyakarta

Kotagede adalah persenyawaan masa silam dan kini. Yang silam dikenang sebagai pusat Kerajaan Hindu yang disulap menjadi Kesultanan Mataram Islam, tempat singgasana Panembahan Senopati bertahta. Tidak ada batas jelas antara yang lalu dan kini. Tapi yang pasti, kota pusaka ini seolah menandakan peradaban modern terbit kemarin Legi.

***

Pagi ini Matahari memulas biru langit dengan bias-bias cahaya secara diam. Sinarnya membentuk bayang-bayang pada jalan, dinding bangunan, dan pepohonan yang sejak semalam tua. Saya menyusuri jalanan menuju Kotagede, menyaksikan dan merasakan, bagaimana sinar itu mengubah gelap menjadi hidup secara gaib. read more

Ulang Tahun di Bukit Turgo

Pada mulanya, kami—saya dan Missika— berencana akan melakukan perjalanan ulang tahun ke Goa Langse, Parangtritis. Kemudian, dengan banyak pertimbangan seperti, lokasi yang jauh dan citra saya sebagai anak gunung agar tetap berdiri teguh, kami memutuskan untuk merayakan hari jadi di Bukit Turgo. Bukit Turgo sendiri berada di Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, Daerah istimewa Yogyakarta.

Rencana itu juga tidak berjalan mulus. Rencana berangkat pada subuh untuk mengejar Matahari terbit, berubah menjadi jam sebelas siang. Jeda waktu yang jauh bukan? Namun, seorang Sagitarius akan tetap menjadi Sagitarius, walau banyak kendala, kami tetap manusia setengah kuda yang berkomitmen melakukan rencana pemburuan dengan membawa busur dan panah sampai titik darah penghabisan. read more

Kelegaan yang Diberikan Tuhan Itu Bernama Semeru

Tempat ini adalah saksi bisu orang-orang bergelut dengan batinnya sendiri. Berpikir, apakah akan melanjutkan perjalanan atau tidak. Tempat ini juga sebagai tempat rebah bagi mereka yang telah pulang dari berjuang, di balik tenda-tenda.

Kalimati yang semula ramai, beranjak sepi. Seekor Elang jawa terbang rendah di atas Kalimati. Beberapa kelompok pendaki mulai mengemas tenda dan peralatan masing-masing untuk melanjutkan perjalanan turun kembali ke Ranu Kumbolo. Kami masih bercakap di depan tenda, bersama beberapa pendaki lain, sembari menghabiskan semua makanan yang Tukul buat. Seperti mengamuk, ia memasak semua bekal makanan. Ia juga membagikan sayuran yang tidak termasak kepada pendaki lain. “Biar enteng!” katanya merujuk pada tas carrier-nya yang seberat kulkas. Kalimati yang hangat. read more

Melawan Keangkuhan di Puncak Abadi Para Dewa

Di antara kapas-kapas putih bergelantungan pada buaian biru angkasa, ada bola api yang mengintip dengan jarak lima ratus milyar kaki dari Bumi, yang dipandangi dari tebing jurang yang curam. Ini momen hening, hanya saya dan ruang waktu.

***

Hari belum benar-benar berganti. Masih malam sebelas derajat yang sama. Saya akhirnya memutuskan untuk benar-benar bangun dari tidur, duduk di dalam tenda. Sedikit kesal, karena tidak bisa tidur, entah gugup atau tidak terbiasa tidur sore. Padahal seharusnya saya tidur, memulihkan tenaga untuk summit. Bahkan setelah Tukul membuatkan susu jahe hangat pun tidak mempan. Jam sebelastigapuluh malam, persiapan menuju Mahameru. read more

Mengukir Cinta Menuju Kalimati

Di sini, saya melihat bagaimana manusia menjadi manusia. Saling berbicang, membagi dan dibagi, menikmati alam dan menjaga agar tetap lestari, serta tidak lupa melantunkan puji untuk Sang Ilahi. Kalimati.

***

Pagi di Ranu Kumbolo. Mata saya terbuka oleh riuh sederhana suara manusia. Bayangan orang lalu lalang tampak samar dari dalam tenda. Saya melihat ke arah pintu tenda, tampaknya pagi belum begitu menyerngitkan panasnya. Seketika saya bangun lalu membuka pintu tenda tadi, udara dingin gunung saya hirup secara dalam, membasahi segala kekeringan dalam tubuh. Kata orang, momen Matahari terbit di Ranu Kumbolo adalah salah satu yang terbaik. Jelas, saya tidak mau melewatkan itu. read more

Kopi di Selimut Kabut Ranu Kumbolo

Tidak perlu nama untuk sekedar berbagi. Datang dari berbagai negeri, duduk mengelilingi api unggun, berbagi cerita dan tawa tanpa syarat. Di depan sana, danau yang senantiasa berselimut kabut, Ranu Kumbolo, menemani kami di malam penuh bintang.

***

Warung masih kosong, pintu belum sepenuhnya terbuka, hanya satu daun. Kami—saya, tante saya Murni, beserta guide dan seorang kru dari Dome Explorers, Angga dan Tukul— duduk di kursi meja depan dapur, biar hangat dekat kompor. Pagi baru saja jadi, tetapi Matahari sudah memancar puas. Sinarnya memantul keras, memberi halo-halo pada kaca jendela. Kami memesan beberapa menu untuk sarapan. Tujuhbelas derajat selsius di Warung Bagus, Ranu Pani. read more

Sebuah Risalah Tentang Mengarang Itu Gampang

Palmerah kali ini terasa berbeda. Angin malam berembus baik hati. Tersisa temaram purnama Bulan kamarin malam menemani lampu-lampu yang masih berpendar dari ruang-ruang gedung tinggi sebuah kantor berita. Suara laju kereta terdengar samar dari kejauhan berlomba bersama deru kendaraan yang tidak akan putus di Ibukota. Orang-orang lalu lalang, bercakap dan bersenda gurau. Saya berdiri di depan Bentara Budaya Jakarta, menunggu untuk bertemu seorang penulis idola, Arswendo Atmowiloto.

***

Di dalam Commuter Line yang tidak begitu ramai pada Jumat malam yang terasa istimewa, saya berusaha menutupi rasa antusias yang berlebihan karena tidak sabar ingin bertemu dan mendapat wejangan dari penulis idola saya itu. Ia yang kita kenal dari karya sinteron Keluarga Cemara akan mengisi sebuah loka karya yang diselenggarakan oleh Harian Kompas dengan tajuk Mengarang Itu Gampang. read more

Jatuh Cinta Pada Rumah W.R. Soepratman

Alangkah sederhanya mencintai negeri ini, hanya memandang segalanya dari dekat. Alangkah mudahnya mencintai para pahlawan negeri ini, hanya datang dan masuk ke rumah-rumah dan membaca kisahnya.

***

Ojek daring yang saya tumpangi masuk ke sebuah gang kecil dengan jalanan mortar cetak yang ramah, di tengah Kota Surabaya. Pak pengemudi hafal betul ketika harus belok kanan atau kiri. Sepertinya ia sudah pernah ke sini, mengantarkan penumpang lain. Di Surabaya yang terik, saya akan menceritakan kepada kau tentang rasa jatuh cinta untuk pertama kali kepada rumah ini dan segala yang ada di dalamnya. read more