Catatan Panjang Bus Malam

Di dalam bus, saya seperti berada di Mars. Asing dan sedih, yang disertai aroma kulit imitasi atau entah apa yang tidak saya suka. Membikin mual, meskipun saya belum memasukinya.

***

Ini adalah catatan yang panjang, seperti perjalanan 12 jam yang saya rasai lebih panjang dari seharusnya. Semoga kalian sudi membaca.

Sebulan sudah saya berada di Pacet dan pada akhirnya merindukan Yogya. Pada rumah di pinggir Kali Code itu; pada kamar sempit nan memanjang; pada ikan-ikan beserta tanaman di sudut hijau; pada Benji, gitarlele kesayangan.

Ada beberapa opsi transportasi dari Cianjur menuju Yogyakarta yang bisa saya gunakan. Kereta dari Jakarta, travel, dan bus. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya memilih yang ketiga, dengan berat hati. Bahkan saya sudah merasakan mual ketika hendak memesan tiket sehari sebelum keberangkatan. Aneh.

Entah kapan kali terakhir menggunakan bus, saya tak ingat dan tak mau mengingatnya. Sebagai seorang yang gemar melakukan perjalanan, kereta api adalah pilihan utama. Ekosistemnya sudah sangat baik dan nyaman, dan saya termanjakan. Ditambah, memori masa kecil liburan ke rumah nenek dengan kereta api yang akan terus melekat.

Namun bus? Saya tidak mengenalnya.

Apa lacur! Perjalanan menuju Yogya dari Cianjur akan menjadi malam yang asing.

Dari Pacet, Ika mengantar menuju Terminal Rawabango, Cianjur, dengan sepeda motor kesayangannya. Tidak lebih dari satu jam. Udara yang semula dingin pegunungan, perlahan menurun lalu berubah menjadi panas. Sesampainya di kota, saya bergumam dalam hati, satu babak menuju antah berantah.

Kami melaju menuju salah satu klinik untuk saya dapat melakukan tes rapid. Meski pihak armada tidak mewajibkan, tapi saya punya tanggung jawab personal untuk memastikan tidak membawa penyakit. Lepas tes keluar dengan hasil negatif, kami meninggalkan klinik dengan perasaan lega meski perut kosong. Di suatu simpang, kami berhenti sejenak untuk mengisi perut.

Gedean mana, Rawabango atau Jombor?” tanya saya kepada Ika lepas tak ada lagi yang tersisa di atas piring. Hanya es teh tinggal setengah.

“Jombor,” jawab Ika cepat, terhenti sebentar, “Rawabango itu, bus datang terus memutar lalu keluar lagi. Gitu doang.”

“Kayak Concat berarti?” sambung saya menyinggung Terminal Condong Catur.

Ika mengangguk dan saya membayangkan babak antah berantah selanjutnya yang akan saya masuki.

Lepas teh habis, kami meninggalkan tempat makan menuju terminal tujuan. Menyusuri ruko yang berjajar di tengah kota, lalu memasuki jalanan yang lebih besar dengan bangunan yang lebih jarang. Setengah jam berlalu, Ika memperlambat laju motor dan kemudian berhenti di suatu sisi jalan. Sementara matahari telah memakan bayangan.

“Ini terminalnya,” ucapnya.

Saya menoleh ke arah kanan. Tampak oleh mata, dinding setinggi satu meter dengan cat yang terkelupas bertuliskan Terminal Rawabango.

“Oke,” jawab saya datar.

Ika membelokkan motor, menyeberangi jalan, kemudian memasuki area terminal. Lagi-lagi saya bergumam dalam hati, selamat datang di dunia antah berantah.

Tampak bangunan yang difungsikan sebagai kantor berbagai agen bus dan satu bangunan lain di tengah area yang atapnya hampir roboh. Kami berhenti di depan agen Hiba Putra, bus yang akan mengantarkan saya pulang ke Yogya.

Administrasi selesai, kami berjalan menuju satu warung di sudut. Memesan kopi seraya menunggu jadwal keberangkatan. Saya terkekeh dalam diam, bahkan Terminal Muntilan lebih bagus dari ini.

“Juf enggak pernah terbayang sebelumnya bisa ada di sini, Nyai” ucap saya kepada Ika.

Ika terkekeh. Saya mengingat-ingat kembali, kapan kali terakhir saya mengalami keadaan asing seperti sekarang ini. Teringat perjalanan bersama seorang teman, Bulan, menaiki bus dari Surabaya menuju Madura. Saya ceritakan kepada Ika kepanikan yang dirasa ketika berhadapan gempuran calo-calo bus di Terminal Purbaya. Wajah yang pucat terekam oleh Bulan dan menjadi bahan candaan.

“Sempat Bulan posting di Facebook tuh, gimana Juf panik,” saya bercerita, “belum lagi sapaan ‘pean’. Juf pikir, apaan sih pean-pean? Pala lu pean! Eh, enggak tahunya sampean.”

Ika tertawa. Saya pun ikut tertawa. Juga saya ceritakan padanya, pengalaman lain menggunakan bus dari Kudus menuju Jepara. Bus yang saya tumpangi itu biasa disebut dengan bus kancil. Meski saya mendapatkan tempat duduk, keadaan bus penuh sesak dengan pedagang dengan segala keranjang beserta aroma keringat. Saya memangku seorang anak lelaki. Entahlah, barangkali tujuh tahun usianya. Ibu si anak tetap berdiri.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya merasai sesuatu yang hangat di kaki. Saya memeriksa, si anak muntah! Tak hanya celana, muntahannya juga mengotori lantai bus, dan tentu saja menambah aroma di dalam bus. Tak berhenti di situ, kondektur bus juga memarahi saya karena membiarkan anak itu muntah.

Anak’e muntah meneng wae, Bu? (Anaknya muntah diam saja, Bu?)” ucap kondektur ketus kepada saya.

Dudu anakku, Pak. Anak’e Ibu kuwi. Aku ki mung mangku’ke. (Bukan anak saya, Pak. Anaknya Ibu itu. Saya cuma—menolong—memangku.)” jawab saya tak kalah ketus sambil menunjuk seorang ibu yang hanya diam saja melihat kegaduhan yang disebabkan oleh anaknya itu.

Dengan kesal, saya memberikan kursi saya untuk diduduki oleh si anak sendirian dan membiarkan kondektur membersihkan muntahan dengan wajahnya yang bersungut gelap.

Ika terbahak. Saya pun ikut terbahak, mengingat nasib buruk ketika sedang melakukan perjalanan bus.

Jam tiga siang menuju sore. Setengah jam lewat dari waktu yang dijadwalkan, Ika sudah kembali ke rumah, bus itu tiba juga. Melihat moncongnya yang megah, saya berlega. Takut, kalau-kalau ia masih saja tak berubah sejak decade lalu.

Saya bergegas masuk ke bus. Takut, kalau-kalau kursi bus tidak diberi nomor dan orang dengan bebas duduk. Kecurigaan saya hampir benar. Meski nomor-nomor kursi ditempelkan pada bagasi atas, tapi orang masih asal duduk dan seorang bapak tua telah berdiri di kursi dekat jendela yang sudah saya pesan: nomor 5.

“Saya duduk dekat jendela, Pak,” ucap saya cepat kepada si Bapak.

“Boleh,” jawab si Bapak.

Ya harus boleh dong, saya mendumal kesal, tentu dalam hati, sembari berjalan melewati si Bapak. Ini bukan perkara boleh atau tidaknya saya duduk dekat jendela. Saya sengaja memesan kursi dekat jendela. Itulah sebabnya saya mendapatkan nomor 5. Saya berani berdebat dengan si Bapak untuk mendapatkan kursi dekat jendela, andai saja ia tidak memperbolehkan saya menduduki kursi saya sendiri. Saya tidak peduli jika dianggap jahat. Saya hanya ingin melewati malam perjalanan panjang ini dengan duduk dekat jendela. Dan tak butuh waktu lama, si Bapak bertanya kepada kondektur bus apakah ada kursi lain di belakang yang, barangkali dekat jendela.

“Ada penumpangnya, Pak,” jawab si kondektur.

“Ya, nanti pindah,” jawab si Bapak sembari mengangkut tas-tas bawaannya yang pating srantil kuwi.

Duh, Gusti, ampuni dosa saya, saya bernapas panjang. Lepas seorang pengamen perempuan bernyanyi dengan nada yang sangat sumbang, turun, bus akhirnya bergerak.

Saya kemudian menenggak sebutir Antimo agar segera tertidur. Cepat antar saya sampai Yogya, saya bersungut dalam hati.

Anehnya, Antimo kali ini tidak bekerja cepat. Masih saja saya terjaga ketika bus melewati jalanan meliuk-liuk di tanah gersang Citatah dengan truk-truk tambang, dan tentu saja macet! Kaki mulai terasa pegal. Meski ada tambahan bantalan kaki, tetap saja kaki tidak bisa lurus karena jarak antar kursi yang pendek. Duh, Gusti, paringono mercy sing kathah!

Entah di mana akhirnya saya bisa tertidur dan kemudian terbangun ketika bus berhenti di sebuah rumah makan. Para penumpang berhamburan keluar.

“Istirahat,” seru kondektur.

Dengan mata setengah sadar, saya turun dari bus, berjalan menuju toilet dan mendapati bercak darah menstruasi di celana dalam.

“Oke sip!” ucap saya lunglai. Lengkap sudah perjalanan panjang ini.

Lepas itu, saya kembali ke rumah makan dan memesan segelas Pop Mie. Membuka ponsel dan melihat beberapa pesan.

Udah melipir makan Pop Mie?” dari Ika dan saya membalas dengan mengirimkan foto hidangan makan malam yang entah berada di mana.

Melihat arloji di tangan, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Enam jam berlalu dari yang pertama. Sesuai jadwal, seharusnya saya sudah melewati setengah perjalanan. Namun, saya tidak tahu berada di mana saat ini.

Saya menebarkan pandangan ke berbagai arah. Merunut satu per satu spanduk-spanduk yang tergantung di muka warung-warung pinggir jalan.

Tasikmalaya! Entah Tasikmalaya bagian mana.

Saya benar-benar sedih. Pop Mie rasa bakso yang begitu saya suka terasa hambar. Di malam yang belum juga dini ini, saya terdampar di tempat yang, menurut saya aneh. Sendirian. Sedih, benar-benar sedih. Terlena oleh kenyamanan kereta api lalu gentar oleh bau bensin bus. Setiap suap mie yang masuk ke mulut, tiap itu pula saya menyemangati diri sendiri, yuk, bisa, yuk!

Setengah jam terlewati dengan sedih, kondektur memanggil para penumpang untuk kembali naik karena bus hendak melanjutkan perjalanan.

Antimo masih tersisa. Saya kembali tertidur lalu terbangun di tengah malam karena merasa nyeri yang entah di mana. Perut, pinggang, pantat, atau kaki, saya tak tahu.

Melihat papan nama yang terlintas dan menyadari saya sampai di Purworejo. Belum juga sampai Yogya. Seolah antara Cianjur menuju Yogya adalah jalur yang harus ditempuh pada era sebelum Daendels. Pinggang, pantat, kaki semakin sakit dan saya hendak menangis.

Jam tiga dini hari. Bus terus melaju mendekati Yogya. Menurunkan penumpang di Pasar Gamping dan beberapa tempat lain. Dan ketika kaki ini akhirnya menginjak pada aspal Giwangan, napas yang terembus pun panjang tak berbuntut.

Beberapa tukang ojek menawari jasanya dan saya menolak. Tersisa Rp5.000 di dompet! Saya hanya memiliki saldo GoPay. Maka di pagi yang belum jadi ini, saya menyusuri Jalan Imogiri Timur mencari warung burjo. Segelas teh panas barangkali bisa menjadi minuman selamat datang yang baik bagi saya.

Duduk di bagian depan warung burjo, dan memandang nanar jalanan Yogya yang sepi, mengingat kembali perjalanan yang telah lewat. Melintasi Jawa Barat pada sore, Jawa Tengah pada malam, dan memasuki Yogyakarta pada dini hari, seorang diri. Saya teringat yang ditulis Pram: “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang, seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.”

Syahdan, tas carrier di belakang dan ransel di depan terasa lebih berat dari sebelumnya. Saya berjalan gontai menuju bangunan SLB untuk bisa memesan Gojek. Setiap langkah yang menapak adalah ingatan pada kasur, kasur, dan hanya kasur. Lantas, ketika pada akhirnya tubuh ini rebah di atas kasur, saya berseru dalam hati, betapa ringkihnya hidup saya saat ini, lalu mata perlahan menutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *