Ketika menulis novel perdana, Mandara, selain menciptakan tokoh karakter dan konfliknya, saya merasa harus mengetahui keadaan rumahnya. Rumah adalah ruang penciptaan diri, bagaimana ia hadir, ia berpikir dan bertindak. Maka secara khusus, saya menyediakan waktu untuk merancang rumah para aktor yang bercerita. Merancang rumah dalam novel, bukan hanya pemilihan dinding, lantai, dan atap, atau menentukan sudut yang tepat untuk mendapatkan cahaya matahari pagi agar novel memiliki nuansa sinematik, tapi juga tentang tata atur antar ruang dengan tautan lingkungan sekitarnya. Ini adalah tentang cipta, rasa, dan karsa.
Tag: perempuan banyu
Melepas Welirang untuk Arjuno

Sumber Brantas tumpah ruah. Para pendaki mengisi ruang-ruang. Di pinggir jalan, di warung, di kamp pangkal. Ini akhir pekan dan hari menjelang siang. Dua jam mengulur dari rencana semula, menimbulkan keraguan di kepala, akankah pendakian dua gunung adik-beradik bisa berjalan sesuai kehendak?
Rencana yang Sempurna
Pendakian ini dibuat tanpa banyak waktu. Senin, 31 Juli 2023, saya dan Roro saling berkirim pesan. Ia mengajak saya mendaki Gunung Arjuno – Welirang bersama empat orang temannya—Wisnu, Sandi, Mukrom, Ari—pada akhir pekan. Sempat ragu, dengan pertimbangan waktu yang begitu mendadak. Di usia menjelang 40 tahun begini, saya membuat batas, tak bisa sembarangan mendaki.
Mengenal Gorontalo dengan Sepiring Ayam Bakar Iloni
Betapa mengerikan hidup tanpa makanan-makanan yang enak.” Soe Hok-gie.
Sebagai orang Jawa, pengalaman lidah saya atas gastronomi Nusantara begitu sedikit. Saya harus melampaui usia 39 tahun dulu baru bisa mengenal dan mengicip coto makassar di kota aslinya! Sungguh kasihan. Tidak tanggung-tanggung. Dalam lawatan (cailah, lawatan!) perdana ke Sulawesi Selatan, saya mendatangi Festival Ensiklopedia Pangan Olahan Sulselbar di Ford Rotterdam! Ya, namanya juga festival makanan, jelas saya makan! Ada olahan pisang barongko yang mirip dengan carang gesing di Jawa, bau peapi jepa yang bikin tambah nasi terus, dan kapurung yang membuat saya menyebut nama Tuhan yang jarang disebutkan.
Tenggelam di Ketinggian
Pada Lawu saya kembali. Gunung pertama yang didaki lepas satu setengah tahun pandemi menghantam Bumi. Di antara waktu mengulur jarak dengannya, Lawu malahan seolah menarik saya untuk memilihnya, yang entah untuk apa.
Rabu pagi itu, pukul 9, Dusun Ceto, Karanganyar, cukup cerah. Matahari sedang bungah dalam peraduannya di ufuk timur. Saya duduk di warung Basecamp Lawu Barokah dengan secangkir kopi panas di atas meja. Gunung Merapi, Merbabu, dan Ungaran tampak di kejauhan, menari-nari di atas awan. Menjadikan kopi saset kali ini terasa lebih nikmat dari biasanya.
Memetik Harap Bunga Telang di Samata
Sebelum mulai, silakan baca tulisan tentang 30 Jam di Atas Laut Jawa terlebih dahulu untuk tahu ihwal keberadaan saya di Samata.
***
Hari masih awal, jam tujuh pagi ketika saya bangun. Matahari bungah di timur. Nato dan Nina—burung merpati kipas peliharaan Kebun Tentangga—beserta kawanannya, berkerumun mematuk-matuk pakan yang baru saja ditebar Syukron. Saya berjalan melintasi kerumunan tanpa mengganggu, dari rumah yang saya tempati menuju rumah utama yang didiami Syukron sekeluarga. Di dapur, tanpa ragu pula saya menyeduh kopi lalu duduk di ambin kayu di teras depan rumah. Ya, menyesap kopi adalah hal wajib yang saya lakukan untuk mengalami pagi yang sempurna. Suatu ritme yang tidak bisa diganggu, seperti Nina dan Nato yang harus diberi makan. Asap kopi yang mengepul dan sesap demi sesapnya adalah nyawa pertama, dan saya akan menikmati pagi hanya dengan kopi; tidak akan melakukan apa-apa selain melamun, sampai gelas tandas dan nyawa siap lepas landas.
Catatan Panjang Bus Malam
Di dalam bus, saya seperti berada di Mars. Asing dan sedih, yang disertai aroma kulit imitasi atau entah apa yang tidak saya suka. Membikin mual, meskipun saya belum memasukinya.
***
Ini adalah catatan yang panjang, seperti perjalanan 12 jam yang saya rasai lebih panjang dari seharusnya. Semoga kalian sudi membaca.
Sebulan sudah saya berada di Pacet dan pada akhirnya merindukan Yogya. Pada rumah di pinggir Kali Code itu; pada kamar sempit nan memanjang; pada ikan-ikan beserta tanaman di sudut hijau; pada Benji, gitarlele kesayangan.
Tidak Ada Kegagalan Atas Nama Perjalanan
Jalanan yang dulu berlubang, kini tampak mulus. Ladang tomat dan cabai kini berganti kacang panjang dan kubis karena musim. Puncak Gunung Gede dan Pangrango sepenuhnya tertutup kabut. Menyisakan jajaran cemara gunung di balik samar kabut. Sarongge, jam dua siang.
“Enak, ya, refreshing habis deadline,” seru Ika dari atas Hujan, motor Vega kesayangannya.
“Iya,” jawab saya singkat yang duduk menumpang di belakang.
Omong-omong soal deadline, saya sudah lupa bagaimana rasanya dikejar deadline. Maklum, pengangguran. Apalagi sedang pandemi seperti ini. Boro-boro deadline, proyek saja tidak ada.
Nostalgia Warung Mang Idi
Hujan belum juga reda. Rintiknya membasahi pakaian dan sepatu. Dingin udara pegunungan di antara kelok-kelok Jalan Raya Pos Cianjur menembus pelan ke kulit. Saya dan Ika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lepas berhenti cukup lama, berteduh dari hujan yang tiba-tiba datang menderas. Kalau saja bukan karena ingin mengulang kenangan, saya pasti enggan melakukannya. Sementara puncak Gede dan Pangrango tertutup kabut.
“Warungnya yang mana sih?” tanya saya ke Ika ketika kami sampai ke area parkir Kebun Raya Cibodas.
Akar dan Ranting
Jam dua dini hari. Sejak mematikan lampu kamar jam sepuluh malam, saya masih saja terjaga. Nyeri tak tertahankan terasa pada kaki kanan. Saya sadar, butuh bantuan kali ini. Dari kamar lantai atas, saya menelepon Ika yang berada di kamar bawah. Tersambung, tapi tak terangkat. Saya mengaduh dan air mata mulai menetes. Namun beberapa saat, telepon saya berdering. Dari Ika.
“Punya obat anti nyeri enggak?” ucap saya tersedu-sedu, “kakinya sakit banget.”
Cerita bermula dari satu hari sebelumnya.
Mandara di Balik Layar
Kata orang, menulis novel itu susah. Ia harus selesai. Dari cerita bermula, sebuah novel harus menemukan jawaban.
Menulis novel sudah menjadi impian saya sejak lama. Beberapa judul pernah saya tulis. Perjalanan solo trip Flores, pun cerita tentang persahabatan remaja layaknya AADC pernah ada di laptop. Sayang, mereka tak pernah berhasil sampai titik. Sampai akhirnya saya melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Gunung itu memberi kisah dan membukakan banyak sekali kebetulan. Seolah memberi jalan, bahkan mengantarkan saya pada sejarah keluarga, yang barangkali, tak kan pernah habis ditulis, dan Indonesia punya utang yang tak kan mampu dibayar.