Surat untuk Bapak dan Adikku, Tomo

Sore itu dingin. Antara hujan dan kabut silih berganti meremangkan hati di kaki Gunung Merapi. Aku menanti terang itu, tapi tak kunjung ia datang. Tak kuat sudah aku menahan perih yang entah datang dari mana. Kulihat arloji di tangan. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Aku ingin pulang.

Di antara hujan yang kurasai sama ketika menuruni Sumbing kala lalu, aku melaju paksa roda dua hitamku. Bulir-bulir air hujan menghantam wajahku seperti panah-panah danuh dari langit. Menyamarkan air mata yang tak bisa kubendung lagi. Aku menangis. Teringat segala abai yang telah kuperbuat kepada Bapak dan Tomo, adikku. read more

Buah Pikir Bernama Maniksaka

Buah Pikir Bernama Maniksaka

Selanjutnya sesudah ini kau boleh dipanggil Sang Yang Guru; dan menempatkan seluruh kepercayaan kepadamu, aku menyerahkan bumi dan semua dihubungkan kepadanya, dimanfaatkan dan diatur berdasarkan atas keinginan dan kesenanganmu.

Terjemahan Manik Maya.

***

Di buku sketsa besar saya menulis suatu nama. Maniksaka. Di bawah nama saya menarik garis, membaginya menjadi tiga bagian. Bagian kiri saya beri judul Akasa; tengah adalah Mandara; kanan bernama Sagara. Memetakan warna dan meraba aroma gunung, laut, dan nir-udara lalu menempatkannya di tiap bagian. Saya membuka buku lainnya yang lebih kecil. Buku bertuliskan daftar rimpang, batang, bunga, dan biji rempah yang telah saya pelajari manfaatnya. Di tiap bagian buku besar, saya tuliskan masing-masing dua rempah untuk menciptakan karakter yang sesuai dengan nama. Sebuah resep yang barangkali, bisa mengobati luka yang meradang di tubuh. Resep yang saya peroleh dari tutur leluhur. Resep yang, pula tersemat doa, semoga menyembuhkan. read more

Membawa Pulang Restu dari Sumbing

Malam jatuh. Pagi tumbuh. Desa Butuh, Kaliangkrik, Magelang, tak begitu ramai. Kata orang, desa ini tak banyak dipilih oleh para pendaki. Salah satu penyebabnya, barangkali, akses yang sulit dijangkau dengan transportasi umum. Namun, musabab sepi itulah, saya bersama Yanu, Arni, Galang, dan Alif, memilih desa ini sebagai pintu rimba memasuki hutan Gunung Sumbing.

Seminggu tepat lepas perbincangan sore di Kebun Buku, kami berada di kaki Sumbing. Agak aneh. Di usia yang bukan lagi duapuluh, dalam waktu setengah tahun, saya melakukan tiga pendakian yang tidak dirancang lama: Lawu, Arjuno, dan kali ini Sumbing. Dua yang terakhir, bahkan tidak lebih dari seminggu. Padahal saya pernah berujar pada diri sendiri, tidak akan sembarangan mendaki. Tapi hari ini sungguh berbeda dari yang terucap. Saya merasa, ketika memutuskan mengulur jarak, mengapa gunung malah menarik untuk kembali. read more

Mengenal Gorontalo dengan Sepiring Ayam Bakar Iloni

Betapa mengerikan hidup tanpa makanan-makanan yang enak.” Soe Hok-gie.

Sebagai orang Jawa, pengalaman lidah saya atas gastronomi Nusantara begitu sedikit. Saya harus melampaui usia 39 tahun dulu baru bisa mengenal dan mengicip coto makassar di kota aslinya! Sungguh kasihan. Tidak tanggung-tanggung. Dalam lawatan (cailah, lawatan!) perdana ke Sulawesi Selatan, saya mendatangi Festival Ensiklopedia Pangan Olahan Sulselbar di Ford Rotterdam! Ya, namanya juga festival makanan, jelas saya makan! Ada olahan pisang barongko yang mirip dengan carang gesing di Jawa, bau peapi jepa yang bikin tambah nasi terus, dan kapurung yang membuat saya menyebut nama Tuhan yang jarang disebutkan. read more

Hilangnya Makna Perjalanan Kini

“dan di situlah aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda dalam hidupku, saat paling aneh, saat di mana aku tidak tahu siapa aku sebenarnya–jauh dari rumah, kelelahan, di sebuah penginapan murah yang belum pernah kulihat sebelumnya,”

Sepenggal peristiwa yang dialami Sal Paradise di buku On The Road mengingatkan saya pada perjalanan solo ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, 2012 silam. Memandang kosong dinding ivori penuh bercak karat bekas hujan sebuah penginapan di Kota Ende, lepas perjalanan darat menakutkan dari Moni, menahan tangis di tenggorokan, karena akhirnya keluar dari suatu ancaman. Musababnya, seorang kenalan pada pendakian Kelimutu, yang mengantarkan saya di perjalanan itu, sempat merayu untuk sejenak berhenti di pinggir jalan yang sepi. Pun berusaha menyentuh salah satu bagian tubuh. Saya berusaha keras menahan kantuk yang luar biasa agar tetap awas terhadap ancaman itu. Maka, ketika akhirnya tiba di penginapan, rasa lega hadir. Saya selamat, meski lalu merasa sedih karena berada terpisah oleh banyak pulau dari rumah. Sendirian. read more

Tenggelam di Ketinggian

Pada Lawu saya kembali. Gunung pertama yang didaki lepas satu setengah tahun pandemi menghantam Bumi. Di antara waktu mengulur jarak dengannya, Lawu malahan seolah menarik saya untuk memilihnya, yang entah untuk apa.

Rabu pagi itu, pukul 9, Dusun Ceto, Karanganyar, cukup cerah. Matahari sedang bungah dalam peraduannya di ufuk timur. Saya duduk di warung Basecamp Lawu Barokah dengan secangkir kopi panas di atas meja. Gunung Merapi, Merbabu, dan Ungaran tampak di kejauhan, menari-nari di atas awan. Menjadikan kopi saset kali ini terasa lebih nikmat dari biasanya. read more

Catatan Panjang Bus Malam

Di dalam bus, saya seperti berada di Mars. Asing dan sedih, yang disertai aroma kulit imitasi atau entah apa yang tidak saya suka. Membikin mual, meskipun saya belum memasukinya.

***

Ini adalah catatan yang panjang, seperti perjalanan 12 jam yang saya rasai lebih panjang dari seharusnya. Semoga kalian sudi membaca.

Sebulan sudah saya berada di Pacet dan pada akhirnya merindukan Yogya. Pada rumah di pinggir Kali Code itu; pada kamar sempit nan memanjang; pada ikan-ikan beserta tanaman di sudut hijau; pada Benji, gitarlele kesayangan. read more

Tidak Ada Kegagalan Atas Nama Perjalanan

Jalanan yang dulu berlubang, kini tampak mulus. Ladang tomat dan cabai kini berganti kacang panjang dan kubis karena musim. Puncak Gunung Gede dan Pangrango sepenuhnya tertutup kabut. Menyisakan jajaran cemara gunung di balik samar kabut. Sarongge, jam dua siang.

“Enak, ya, refreshing habis deadline,” seru Ika dari atas Hujan, motor Vega kesayangannya.

“Iya,” jawab saya singkat yang duduk menumpang di belakang.

Omong-omong soal deadline, saya sudah lupa bagaimana rasanya dikejar deadline. Maklum, pengangguran. Apalagi sedang pandemi seperti ini. Boro-boro deadline, proyek saja tidak ada. read more

Nostalgia Warung Mang Idi

Hujan belum juga reda. Rintiknya membasahi pakaian dan sepatu. Dingin udara pegunungan di antara kelok-kelok Jalan Raya Pos Cianjur menembus pelan ke kulit. Saya dan Ika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lepas berhenti cukup lama, berteduh dari hujan yang tiba-tiba datang menderas. Kalau saja bukan karena ingin mengulang kenangan, saya pasti enggan melakukannya. Sementara puncak Gede dan Pangrango tertutup kabut.

“Warungnya yang mana sih?” tanya saya ke Ika ketika kami sampai ke area parkir Kebun Raya Cibodas. read more

Akar dan Ranting

Jam dua dini hari. Sejak mematikan lampu kamar jam sepuluh malam, saya masih saja terjaga. Nyeri tak tertahankan terasa pada kaki kanan. Saya sadar, butuh bantuan kali ini. Dari kamar lantai atas, saya menelepon Ika yang berada di kamar bawah. Tersambung, tapi tak terangkat. Saya mengaduh dan air mata mulai menetes. Namun beberapa saat, telepon saya berdering. Dari Ika.

“Punya obat anti nyeri enggak?” ucap saya tersedu-sedu, “kakinya sakit banget.”

Cerita bermula dari satu hari sebelumnya. read more