30 Jam di Atas Laut Jawa

Saya mengenal hijau. Pada hutan yang selalu memberi keberanian, pada rasa lega oleh siulan burung yang hinggap di dahan. Namun biru, saya tidak kenal. Bagaimana rupa terumbu karang dan ikan-ikan laut, yang bersama burung di udara diciptakan pada hari kelima, saya tak tahu.

***

Malam labuh. Pagi tumbuh. Pintu dorong besi menjadi pagar selasar Malioboro yang sepi. Sedikit orang lalu lalang pelan, dan tiga lainnya tergeletak tidur di selasar depan sebuah toko yang belum buka. Sepi. Suasana Malioboro yang bertolak belakang dengan waktu lainnya. Sementara gerimis tipis menambah kesenduan pertanyaan tentang, mengapa saya harus melakukan perjalanan ini? read more

Melepas Welirang untuk Arjuno

Sumber Brantas tumpah ruah. Para pendaki mengisi ruang-ruang. Di pinggir jalan, di warung, di kamp pangkal. Ini akhir pekan dan hari menjelang siang. Dua jam mengulur dari rencana semula, menimbulkan keraguan di kepala, akankah pendakian dua gunung adik-beradik bisa berjalan sesuai kehendak?

Rencana yang Sempurna

Pendakian ini dibuat tanpa banyak waktu. Senin, 31 Juli 2023, saya dan Roro saling berkirim pesan. Ia mengajak saya mendaki Gunung Arjuno – Welirang bersama empat orang temannya—Wisnu, Sandi, Mukrom, Ari­—pada akhir pekan. Sempat ragu, dengan pertimbangan waktu yang begitu mendadak. Di usia menjelang 40 tahun begini, saya membuat batas, tak bisa sembarangan mendaki. read more

Catatan Panjang Bus Malam

Di dalam bus, saya seperti berada di Mars. Asing dan sedih, yang disertai aroma kulit imitasi atau entah apa yang tidak saya suka. Membikin mual, meskipun saya belum memasukinya.

***

Ini adalah catatan yang panjang, seperti perjalanan 12 jam yang saya rasai lebih panjang dari seharusnya. Semoga kalian sudi membaca.

Sebulan sudah saya berada di Pacet dan pada akhirnya merindukan Yogya. Pada rumah di pinggir Kali Code itu; pada kamar sempit nan memanjang; pada ikan-ikan beserta tanaman di sudut hijau; pada Benji, gitarlele kesayangan. read more

Tidak Ada Kegagalan Atas Nama Perjalanan

Jalanan yang dulu berlubang, kini tampak mulus. Ladang tomat dan cabai kini berganti kacang panjang dan kubis karena musim. Puncak Gunung Gede dan Pangrango sepenuhnya tertutup kabut. Menyisakan jajaran cemara gunung di balik samar kabut. Sarongge, jam dua siang.

“Enak, ya, refreshing habis deadline,” seru Ika dari atas Hujan, motor Vega kesayangannya.

“Iya,” jawab saya singkat yang duduk menumpang di belakang.

Omong-omong soal deadline, saya sudah lupa bagaimana rasanya dikejar deadline. Maklum, pengangguran. Apalagi sedang pandemi seperti ini. Boro-boro deadline, proyek saja tidak ada. read more

Nostalgia Warung Mang Idi

Hujan belum juga reda. Rintiknya membasahi pakaian dan sepatu. Dingin udara pegunungan di antara kelok-kelok Jalan Raya Pos Cianjur menembus pelan ke kulit. Saya dan Ika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lepas berhenti cukup lama, berteduh dari hujan yang tiba-tiba datang menderas. Kalau saja bukan karena ingin mengulang kenangan, saya pasti enggan melakukannya. Sementara puncak Gede dan Pangrango tertutup kabut.

“Warungnya yang mana sih?” tanya saya ke Ika ketika kami sampai ke area parkir Kebun Raya Cibodas. read more

Mimpi Bermula di Tunggilis

Kopi. Barangkali hanya ialah yang ingin saya pelajari. Bagaimana ia akan berbuah hijau lalu menguning lalu memerah dan matang. Ada cita-cita sederhana; tentang sebuah rumah kecil di tengah hutan kopi dengan pohon-pohon tinggi lain, yang ingin saya miliki, kelak.

Di Tunggilis, cita-cita itu bermula.

Taksi online yang kami tumpangi berbelok ke kiri dari Jalan Raya Puncak, menyusuri jalanan kampung nan sempit. Di beberapa sudut, warga yang sedang duduk-duduk di pinggiran jalan, terpaksa harus lebih menepi untuk mempersilakan mobil yang kami-saya, Ika, dan Mas Rey-tumpangi, bisa lewat. Tak terbayangkan oleh saya andai saja berhadapan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. read more

Rumah Pohon, Saksi Bisu Hutan Sarongge Melebat

Sarongge yang terik. Kami-saya, Ika, dan Mas Rey-melompat naik ke mobil bak terbuka, menumpang sampai ke pondok karyawan kebun stroberi, tujuan akhir mobil. Di hadapan kami, hamparan cokelat tanah ladang yang ditanami hijau, kuning, merah sayur dan buah. Jauh di sana, membentang Gunung Geulis, yang morfologinya seperti seorang perempuan tertidur. Sementara sudut lain, Gunung Gede dengan gelayut awan menutupi puncaknya.

Jalanan yang kami lalui berupa jalan mortar yang tidak rata. Bergelombang dan mengelupas. Wajar. Tiap hari, jalanan yang memiliki kontur itu dilalui mobil bak terbuka, mengangkut penuh hasil ladang. Di atas bak terbuka mobil tumpangan, kami duduk bergelinjang dengan pemandangan yang amatlah amboi. read more

Restu Ibu di Halimun Salak

Kala pagi di Sukabumi. Suara senda gurau samar terdengar dari kaca mobil yang sedikit terbuka. Saya keluar dari mobil setelah tiga jam tidur. Arthur, Roro, Aliza, Pras, Ferry, Ros, Andri, dan Naufal, seorang pemandu, bercengkerama di sudut halaman rumput Villa Abah, Sukabumi.

Saya berjalan ringan mendekati sudut halaman itu yang kemudian disambut Roro dengan memperkanalkan Daffa, adiknya, kepada saya. Udara sejuk, tidak panas juga tidak dingin. Pemandangan indah terbentang di ujung lazuardi.

Lepas mempersiapkan segala peralatan, perlengkapan, dan logistik, kami memulai pendakian pada pukul 9.30 WIB. Terlambat dua setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, pukul 7.00 WIB. Jangan tanya kenapa! Karena pada hakikatnya, manusia boleh merencanakan tapi Tuhan punya kehendak. Ada amin, saudara? Itu pun kami memutuskan untuk menggunakan Rencana B ; berkemah di Pos 3 dan melanjutkan pendakian puncak pada keeseokan menuju harinya, karena kondisi Pras yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju Puncak Manik pada hari yang sama. read more

Ada Keberanian di Pangrango

Berjalanlah tanpa banyak risau, niscaya tanpa disadari, kakimu telah melangkah jauh, hingga akhirnya tiba di tempat yang kau tuju.

***

Ini adalah perjalanan dengan tim terbanyak pertama saya. 12 orang! Yang saya kenal hanya Roro, selebihnya tidak. Terlebih lagi, saya merasa tidak nyaman berada di tengah kelompok besar.

Lalu, mengapa harus takut memulai sesuatu yang baru?

Seseorang berkata, naiklah gunung bersama teman-teman dekat, yang sudah saling mengenal. Namun, teman-teman dekat saya jarang yang suka naik gunung. Kebanyakan mereka sudah menjadi orang tua dengan anak-anak yang menggemaskan. Giliran ada yang suka naik gunung, kami tinggal di kota lain. Susah memang, kalau usia sudah di ambang pertengahan tiga puluhan, belum nikah, dan punya hobi naik gunung. Jadi, ketika Roro menawari mendaki bersama teman-temannya, saya langsung berkata, “MAU!” read more

Misteri di Tanmatra Lawu

Ramuan terjadi dalam tejanya, yang keluar melalui kawah Candradimuka. Lawu embuskan misteri dengan prananya dan lalu terjadi di atas mandaranya, dan menjadi abadi di akasa.

***

Bola keemasan perlahan muncul dari balik garis biru dan merah muda langit. Enam pagi di Sendang Drajat. Rencana untuk mengejar matahari terbit ke puncak pada jam lima pagi, hanyalah mitos.

“Habis subuhan kita berangkat ya,” ucap Roro tadi malam.

Subuh kapan?

Saya berdiri di luar tenda. Sejenak menyaksikan sesuatu yang selalu diharapkan hadir ketika berada di gunung; Matahari. Ia bisa membuat gradasi warna indah pada punggung gunung. Ia bisa menyusup pada kabut dingin. Ia bisa melahirkan kembali jiwa yang lumpuh kerena lelah. read more