Restu Ibu di Halimun Salak

Kala pagi di Sukabumi. Suara senda gurau samar terdengar dari kaca mobil yang sedikit terbuka. Saya keluar dari mobil setelah tiga jam tidur. Arthur, Roro, Aliza, Pras, Ferry, Ros, Andri, dan Naufal, seorang pemandu, bercengkerama di sudut halaman rumput Villa Abah, Sukabumi.

Saya berjalan ringan menghampiri sudut halaman itu yang kemudian disambut Roro dengan memperkanalkan Daffa, adiknya, kepada saya. Udara sejuk, tidak panas juga tidak dingin. Pemandangan indah terbentang di ujung lazuardi.

Lepas mempersiapkan segala peralatan, perlengkapan, dan logistik, kami memulai pendakian pada pukul 9.30 WIB. Terlambat dua setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, pukul 7.00 WIB. Jangan tanya kenapa! Karena pada hakikatnya, manusia boleh berencana tapi Tuhan punya kehendak. Ada amin, saudara? Itu pun kami memutuskan untuk menggunakan Plan B; berkemah di Pos 3 dan melanjutkan pendakian menuju puncak pada keeseokan harinya, karena kondisi Pras yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju Puncak Manik pada hari yang sama.

Baik. Tidak apa. Tujuan mendaki gunung memang bukan semata menuju puncak, tapi ya kalau bisa tetap sampai puncak. Hihihi.

Berbagai aral gendala pun mendera rencana kami untuk menuntaskan keinginan mencapai ketinggian 2211 meter di atas permukaan air laut. Maju mundurnya jadwal, keluar-masuknya peserta, juga pecahnya kongsi antara Cidahu dan Cimelati sebagai jalur yang pilih untuk pendakian. Terlebih, seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa gunung yang memiliki angka ketinggian kembar seperti Gunung Salak ini tidak mengizinkan para pendaki untuk mendaki dengan mudah. Lalu, apakah kami harus juga menjatuhkan tekad kami yang tidak bulat-bulat amat ini? Nehi! Maka, dengan segala niat baik dan restu seorang ibu, kami perlahan menyusuri rimbunnya halimun Gunung Salak dengan hati yang tabah.

SYEEDAAAPPP!

Kata orang, gunung-gunung di Jawa Barat itu pendek-pendek, tidak seperti gunung-gunung di Jawa Timur yang memiliki ketinggian lebih dari 3000 meter. Namun, walaupun pendek, gunung Jawa Barat nyelekit semua, termasuk Gunung Salak. Hutannya yang lebat dan banyaknya cabang jalan, telah membuat banyak pendaki tersesat. Ditambah cerita-cerita mistis yang menyelimuti. Makanya, ketika pertama kali mengajak teman-teman mendaki Salak, saya berujar kalau harus pakai jasa pemandu. Singkat cerita, kami dipertemukan dengan Naufal—yang selanjutnya disapa Opank—seorang anak muda yang ketika ditanya sudah berapa kali mendaki Salak, ia tidak memiliki jawaban pasti, “Enggak ngitung, Kak. Sepuluh kali lebih mungkin.”

“Berarti enggak mungkin nyasar ya?” tanya Arthur.

“Insya Allah,” jawab pemuda 24 tahun itu.

Opank pun memiliki sikap yang baik sebagai seorang pemandu. Ringan tangan, mau ikut membantu membawa perlengkapan dan peralatan kelompok meski bukan seorang porter. Ia juga sabar menunggu kesantaian kami. Ia hanya bilang kalau sebenarnya pendakian kami sudah terlalu siang.

“Jam tujuh itu sudah paling pas. Bisa sampai puncak sekitar jam satu-an. Kalau jam segini (9.30) takutnya kesorean, soalnya jam dua-an itu sudah gelap,” ucapnya.

Yeeeee! Si Malih kagak bilang dari tadi. Kan bokernya bisa ditahan. Tabok juga nih!

Soalnya yah, mau tahu tidak? Yang bikin lama itu mengantre kamar mandi untuk buang hajat di toilet masjid! Ada yang sambil yoga, ada yang sambil sauna, dan ada yang sambil nguras bak!

Ya sudah, apa lacur, spagetthi sudah menjadi bubur, lagi-lagi, kami akan melakukan pendakian ini dengan tabah hati. Oiya, Ros tidak ikut pendakian. Dia menemani sampai delapan lainnya memasuki pintu rimba lalu dia akan pulang dengan ojek yang sudah dipesan pada malam sebelumnya. Dia juga memasak spaghetti tadi untuk sarapan dan memasukkan sisanya ke kantong plastik bekas belanja karena tidak ada tempat untuk menyimpan.

“Ini (spaghetti) buat makan siang,” celotehnya seraya menunjukkan spaghetti di dalam kantong plastik itu kepada saya.

Wooo, PAIJEM!

Lupakan Ros dan kembali ke Opank, di akhir tulisan akan saya cantumkan nomer telepon dan akun Instagram Opank. Barangkali ada yang membutuhkan jasa pemandu Gunung Salak. Lu olang jangan nego Opank punya halga ya, pokoknya okesip deh dia olang punya selpis. Bajunya walna pink!

Lepas dengan jalan mortar, kami mulai memasuki hutan yang menanjak manis. Manisnya seperti Nia Ramadhani yang tidak bisa mengupas buah salak. Takut, kalau-kalau jari-jarinya yang manis itu rusak oleh duri-duri.

Tanjakan manis itu semakin manis. Sangking manisnya, meski sudah satu setengah jam berjalan, kami belum juga sampai di Pos 1. Padahal dari blog-blog yang kami baca, untuk mencapai Pos 1 diperlukan waktu 90 menit. Berarti mereka bohong dong? Saya itu tidak suka dibohongi ya. Tolong! TOLONG! Saya dan teman-teman itu butuh waktu dua jam untuk mencapai Pos 1 dan kami juga harus makan siang tanpa kami berhasil dulu mencapai Pos 2 sesuai dengan estimasi waktu yang dituliskan di blog-blog itu. Lain kali kalau menulis itu yang benar ya! Subhanallah!

Baik!

Lepas makan siang di sebuah tanah landai antara Pos 1 dan Pos 2, kami melanjutkan pendakian Gunung Salak yang, katanya spesial ini. Sangking spesialnya, Salak sering membuat kami beristirahat. Nanjak sedikit, istirahat. Belok kiri ketemu landai, istirahat. Lihat pohon, langsung nyender. Saya sampai lupa jumlah kelompok pendaki yang mendahului jalan kami. Alhasil, kami harus kembali turun ke Pos 2 karena tidak kebagian tempat untuk mendirikan tenda di Pos 3. Duh, Gusti, paringono Mercy sing kathah!

Tidak apa. Pos 2 itu bagai kamar deluxe sebuah hotel bintang lima. Kamar tidur dengan hamparan tanah yang luas dan kamar mandi yang juga luas dengan sekat-sekat pepohonan rimbun bagai AC yang menyejukkan. Lima jam perjalanan dari masjid sampai Pos 2 ini berakhir dengan berkah Tuhan yang sungguh luar biasa. Sementara orang lain memerlukan waktu tujuh jam untuk sampai Puncak Manik. Hallelujah!

Setelah tenda berdiri, di kamar deluxe hotel bintang lima Gunung Salak, kami menyiapkan makan malam dengan leluasa. Menanak nasi, memasak sayur kangkung, menggoreng tempe dan sosis, serta kentang goreng sebagai kudapan lepas makan malam. Gelas-gelas berisi kopi panas pun berhasil memulihkan tenaga yang telah hilang. Ia menutup malam dengan temaram sisa bulan purnama dengan syahdu. Bunyi tongeret di balik-balik ranting seolah memberi penanda bahwa kami baik-baik saja. Ia menjaga kami dengan pekiknya yang nyaring.

Pukul 3.30 subuh hari, lepas sarapan kami memulai pendakian menuju Puncak Manik ditemani sayup suara azan yang entah berasal dari mana. Ia merdu, seperti tongeret yang merestui perjalanan kami tadi.

Oiya, jangan sepelekan sarapan sebelum pendakian ya. Jam berapapun pendakian dimulai, lapar atau tidaknya, terbiasa atau tidak terbiasanya, isilah perut dengan makanan yang setara dengan nasi, jika memang tidak sempat memasak nasi beserta lauk. Roti tawar dengan telur ceplok di tengahnya mampu menjadi sumber tenaga. Ya, mungkin ada yang kuat-kuat saja mendaki tanpa sarapan, tapi performanya akan berbeda dengan orang yang sarapan. Sementara perbedaan performa tiap individu dalam satu tim, bisa menimbulkan konflik di gunung.

Kembali ke pendakian. Kami terus mendaki pada jalan setapak kecil hutan Halimun Salak yang tertutup. Mengeja batu demi batu, merambati akar demi akar secara perlahan, kemudian rebah pada pohon yang melintang atau pada lembabnya tanah, dan lalu kembali berjalan menyusuri tanjakan yang menukik tanpa ampun.

Hutan masih saja tertutup. Batang-batang pohonnya berjajar rapat sementara ranting-rantingnya manangkup. Ia hanya menyisakan sedikit celah untuk Matahari yang mulai membiaskan cahaya oranye di balik awan nun jauh di sana.

Lelah? Jelas. Saya benar-benar tidak bisa memperkirakan kapan kaki ini berhenti mengayuh, kapan mata ini akhirnya bisa melihat saujana lepas. Opank selalu menjawab, “Sebentar lagi,” atau, “Itu tinggal satu belokan lagi,” atau, “Satu tanjakan lagi, Kak,” ketika salah satu dari kami bergantian bertanya kapan sampai. Hanya Tuhan dan Opank yang tahu jawaban sesungguhnya. Namun, di interval jejak kaki kanan dan kiri yang bergantian melangkah itu, ada satu keyakinan dalam diri, bahwa kami pasti akan sampai di puncak gunung.

Benar saja. Setelah enam jam berlalu dari subuh tadi, akhirnya kami sampai di titik tertinggi Gunung Salak, 2211 meter di atas permukaan air laut. Sebuah perjalanan yang tidak mudah di atas tanah hutan lebat yang terus memanjak.

Di bawah cantigi yang tinggi, kami duduk melingkar. Gelas-gelas minuman hangat, dua potong kentang rebus dan mie instan pemberian teman Opank, menghiasi rasa bahagia atas segala jerih payah kami menyusuri hutan halimun Salak yang ganas. Cantigi yang melindungi kami dari riuhnya embusan kencang sang bayu dan terik surya; awan-awan tampak berlari kencang dari timur menuju barat; suara burung jalak yang entah di mana ia hinggap bersiul merdu; satu burung elang terbang tak tinggi di angkasa, dan di sudut sana, Gede dan Pangrango yang genap saya daki, menyempil dari balik awan.

Ketika menulis ini saya teringat komentar teman pada satu unggahan di media sosial sebelum pendakian. Ia mengirimkan doa dan berpesan kepada saya untuk berhati-hati. Ya, Gunung Salak terkenal angker. Hutannya yang lebat itu kerap membuat pendaki tersesat. Bahkan pernah dalam sebuah masa, pesawat sukhoi pernah menjadi korban keganasan Gunung Salak dalam satu uji kesombongan. Tubuh burung besi tempur itu hancur lebur yang membuat seluruh awaknya mati. Tiga dekade lalu pernah juga terjadi tragedi mengenaskan yang merenggut nyawa siswa-siswa pencinta alam dari sebuah sekolah di Jakarta.

“Mereka berlomba adu cepat, Kak. Yang sampai puncak duluan, dia akan jadi ketua,” jawab Opank ketika saya bertanya mengenai tragedi tahun 1987 itu. Opank melanjutkan, “ada semacam adu ego untuk meraih sebuah kekuasaan. Mereka terpisah dan meninggal satu demi satu.”

Ya, begitulah alam liar. Ia adalah bumerang yang akan kembali pada diri pelempar. Jika yang dilempar baik, alam akan menjadi guru yang baik. Begitu juga sebaliknya. Tak heran jika saya selalu merasa khawatir di setiap pendakian, yang juga mendera di hati pada perjalanan Gunung Salak kali ini.

Namun, saya percaya, sebuah iktikad baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Berdoa sebelum melangkah, mengucap permisi ketika memasuki pintu rimba, menjaga ucapan, dan berperilaku baik, seperti menimbun sisa makanan dan bawa turun kembali sampah juga merupakan manifesto pendakian. Alhasil, kami berhasil menuruni Puncak Manik menuju Pos 2 selama dua jam saja dan dari Pos 2 menuju Villa Abah dengan selama 45 menit saja dengan selamat dan wajah berseri! Sebuah prestasi tersendiri.

“Wajah kita tetap berseri gitu meski lelah luar biasa,” celetuk Roro ketika akhirnya kami tiba di sebuah area terbuka sebelum pintu rimba. Tubuh kami rebah di atas tanah.

“Ini berkat Indomie,” sahut Andri, merujuk pada makanan yang kami santap di Pos 2 sebelum turun gunung.

“Tahu gitu, berangkat kemarin kita sarapan Indomie saja,” jawab Roro, melanjutkan, “ke puncak enggak bakal enam jam!”

Tawa renyah keluar dari mulut kami yang lalu terbang bersama semilir angin. Detak jantung kami kembali normal diiringi pekik tongeret yang tak pernah padam. Di belakang sana, hutan Gunung Halimun Salak telah berhasil kami lalui dengan baik.

Segala teror Gunung Salak tidak hinggap pada kami. Padahal Aliza sedang datang bulan. Konon katanya, makhluk-makhluk halus menyukai bau amis darah perempuan. Saya sempat mengirim pesan singkat melalui ponsel kepada Aliza setibanya di rumah, apakah ia mengalami hal-hal aneh, karena sebenarnya saya cukup khawatir.

“Alhamdulilah enggak sama sekali, Kak Wid,” balas Aliza, lanjutnya, “mungkin karena niat gue enggak neko-neko dan gue enggak pernah buang sampah sembarangan.”

“Terbukti yah, kalau niat baik tentu akan berjalan dengan baik,” balas saya.

“Dan sudah dapat restu dari ibu sebelum naik,” tutup Aliza.

Saya tersenyum membaca balasan Aliza. Ia telah merasakan dahsyatnya restu seorang ibu. Restu itu mampu menghalau segala rintangan di atas Bumi, di dalam keangkeran hutan Gunung Halimun Salak. Kuasanya adalah perpanjangan tangan Tuhan. Maka pergilah dengan restu seorang ibu, niscaya kau akan selamat.

Sementara, nama Salak diambil dari bahasa Sansekerta, salaka yang artinya perak. Maka Gunung Salak bukan mengacu pada sebuah nama buah, tapi ia adalah Gunung Perak yang memiliki 12 puncak dengan Puncak Manik sebagai yang tertinggi dengan angka 2211 meter di atas permukaan air laut.

***

Naufal Hajid (Opank): +62 896 1149 1585

Instagram: @opankwayne

Please follow and like us:

2 thoughts on “Restu Ibu di Halimun Salak

  • October 31, 2019 at 7:50 pm
    Permalink

    Seru! Jadi kepingin naik gunung lagi. 🙂

    Reply
    • December 10, 2019 at 6:40 pm
      Permalink

      terima kasih. 🙏🙏🙏

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *