Ada Keberanian di Pangrango

Berjalanlah tanpa banyak risau, niscaya tanpa disadari, kakimu telah melangkah jauh, hingga akhirnya tiba pada tempat yang kau tuju.

***

Ini adalah perjalanan dengan tim terbanyak pertama saya. 12 orang! Yang saya kenal hanya Roro, selebihnya tidak. Terlebih, saya merasa tidak nyaman berada di tengah kelompok besar.

Lalu, mengapa harus takut memulai sesuatu baru?

Seseorang berkata, naiklah gunung bersama teman-teman dekat, yang sudah saling mengenal. Namun, teman-teman dekat saya jarang yang suka naik gunung. Kebanyakan mereka sudah menjadi orang tua dengan anak-anak yang menggemaskan. Giliran ada yang suka naik gunung, kami tinggal di beda kota. Susah memang, kalau usia sudah di ambang pertengahan tiga puluhan, belum nikah, dan punya hobby naik gunung. Jadi, ketika Roro menawari mendaki bersama teman-temannya, saya langsung bilang, “MAU!”

… dan semoga saja, kelak diberikan pasangan yang suka naik gunung juga ya. Biar tidak bingung kalau naik gunung. Biar bisa bulan madu ke Annapurna Base Camp pakai uang sumbangan juga.

Wkwkwk!

Baik.

Sesuai kesepakatan di What’sApp Group, delapan orang dari kami, berjumpa di Gedung XXI Sarinah, sementara Roro dan seorang lagi berangkat dari Bandung. Tepat jam 10 malam, Tim Sarinah bergegas menuju Kebun Raya Cibodas, pintu masuk menuju Taman Nasional Gede Pangrango, dan tiba pada lewat tengah malam. Kami bermalam di salah satu pondokan.

Bisa tidur? Tentu tidak. Sama sekali tidak tidur. Saya selalu merasa gugup ketika hendak mendaki gunung. Saya hanya berdoa, agar diberi kekuatan mendaki Pangrango.

***

Oiya, sudah baca tulisan saya tentang Lawu? Ketika saya bersumpah tidak akan mendaki gunung dengan trek batu. Sumpah itu ternyata kalah dengan keinginan saya mendaki Pangrango, gunung yang, sempat batal saya daki tahun lalu. Kali ini saya melakukan hattrick mendaki trek batu. Dengan iman kepada Gusti Yesus, saya persiapkan kekuatan mental dan fisik mendaki Pangrango.

Cibodas yang sejuk. Beberapa kelompok pendaki berkumpul di sudut-sudut warung. Saya melirik arloji di tangan, jam menunjukkan pukul 6.30 ketika kami memulai pendakian. Berjalan beruntun, kami menyusuri lapak-lapak buah, bunga, atau cinderamata yang memenuhi halaman parkir Cibodas menuju pintu rimba.

Cibodas punya memori penting buat saya. Dulu, ketika masih usia belasan, kerap kali saya dan teman-teman tamasya ke halaman parkir yang juga penuh warung itu. Iya, hanya halaman parkir. Dengan mengendarai sepeda motor, kami rela menghantam udara dinginnya Puncak untuk nongkrong di warung-warung yang berjajar di halaman parkir Cibodas. Warung Mang Idi menjadi favorit. Menikmati sepiring nasi goreng berdua bersama teman sembari memandang pemandangan ladang sayur warga di kaki gunung. Romantis. Jadi, saya selalu merasa senang jika bisa kembali ke Cibodas.

Jalur menuju Pangrango adalah sama dengan menuju Gede, yaitu Cibodas. Pintu rimbanya sama. Jalur bebatuan menuju dua gunung satu punggungan ini akan terpisah di Kandang Badak, area kemah di ketinggian 2414 meter di atas permukaan laut.

Di sepanjang jalur Cibodas ini, telinga dimanjakan dengan gemericik air. Suaranya kadang jauh entah di mana, tapi ia juga tak segan untuk berada di hadapanmu, menyegarkan mata. Riaknya yang tajam di hulu menjadi tenang di Telaga Biru.

Menyusuri jembatan batu Rawa Gayonggong, Pangrango tampak malu-malu. Matahari pagi menyisakan bias di puncaknya. Saya masih belum sepenuhnya yakin, apakah akan diberi kesempatan untuk berada di atasnya atau balik kanan. Memandang puncak sepi itu, saya bergumam dalam hati, “Izinkan aku berada di ribaanmu.”

Cibodas yang ramai. Terlebih ketika akhir pekan tiba. Kami yang semula berjalan beruntun perlahan terpisah-pisah menjadi beberapa kelompok kecil. Ini susahnya berjalan dalam tim besar. Jarang ada yang bisa selalu bersama. Tubuh tiap individu diciptakan berbeda. Teman dengan langkah lebar dan cepat pasti memiliki ego untuk cepat sampai, maka ia berada paling depan; saya pun juga punya ego dengan berjalan dengan tempo yang konstan dan langkah kecil ditemani cuitan burung-burung di balik-balik ranting pohoh, berada cukup jauh dengan teman-teman yang memilih berjalan santai, asyik menikmati perjalanan.

Lalu, kami akan kembali bersama di balik pos-pos atau di atas pohon yang melintang.

Memasak di Kandang Badak

Mendaki dalam tim besar dengan teman-teman baru ternyata asyik juga. Saya senang bisa berkenalan dengan Ros, Ikas, Ratih, dan Aliza, teman perempuan. Bersama Roro, total ada enam perempuan. Jangan tanya kekompakan para pendaki. Sangking kompaknya, kami akhirnya berhasil menanak nasi setelah gagal pada putaran pertama.

Pada putaran pertama itu, nasi yang kami masak masih atis meski sudah menyeruakkan bau gosong. Menanak nasi di gunung itu butuh skill tinggi. Ada tekniknya. Tidak seperti di rumah tinggal tekan tombol ‘cook’ langsung secara ajaib nasi matang. Itu juga kalau tidak kebanyakan air, atau lupa tekan tombol meski kabel sudah tercolok, atau pernah juga saya lupa mencolok kabel pada soket meski tombol ‘cook’ sudah ditekan. Itu ya, Nenek Lampir berubah jadi Nyai Roro Kidul juga tidak akan matang, Mantili!

Sebelumnya, saya pernah berhasil memasak nasi sampai tanak ketika di Gunung Gede. Namun, nasi yang saya masak itu hancur karena saya aduk berulang kali. Hihihi. Tapi tetap habis dimakan juga.

Kembali ke Pangrango, setelah merayakan keberhasilan menanak nasi yang ternyata masih atis pada putaran pertama tadi, dengan percaya diri nan asal-asalan, saya tambahkan air sembari membolak-balikkan alat masak atau biasa disebut nesting setiap beberapa menit sekali. Biar nasi tanak merata. Sembari berdoa, agar nasi tanak secara sempurna. Saya malu kalau ternyata gagal lagi. Harga diri saya bisa jatuh kembali ke Cibodas. Sementara kami semua sudah sampai di Kandang Badak, setelah kurang lebih delapan jam mendaki.

Pada hakikatnya, menanak nasi di gunung adalah juga perihal keberanian. Berani repot dan sabar. Kebanyakan pendaki lebih memilih untuk memasak mie instan dibandingkan memasak nasi beserta sayur dan lauk. Padahal mengonsumsi nasi beserta sayur dan lauk dapat memulihakan tenaga dan melelapkan tidur.

Suasana sangat menyenangkan, bersama teman-teman baru yang juga menyenangkan. Kandang Badak yang tidak terlalu dingin. Tiga kompor kami semua menyala. Nasi, tempe mendoan, dan sop kami masak untuk santap malam. Ada juga teman lain, Reza, membuat sambal menyempurnakan hidangan kami.

“Enak atau enggaknya itu masalah belakangan. Yang penting bikin iri tenda lainnya,” celetuk Ikas seraya membalikkan terasi yang dibakar di atas kompor. Harumnya membuat lapar se-Kandang Badak! Mungkin.

Menuju Puncak

Pada keesokan harinya, jam tiga dini hari, sembilan orang dari dari kami bersiap melakukan pendakian menuju Puncak Pangrango dan Lembah Mandalawangi. Sementara Ros, Ratih, dan Reza memilih untuk bangun lebih siang.

Pangrango yang dingin, gelap, dan hutan yang rapat. Batang pohon banyak melintangi jalan, memaksa kami untuk melompat atau mengolong atau merambat pada akar-akar yang timbul ke permukaan tanah. Juga jurang-jurang yang dalam yang memaksa kami untuk tetap awas.

Namun, pohon-pohon itu juga dengan rela menjadi sandaran duduk kami ketika lelah.

Saya sempat hampir terjatuh ke jurang karena salah memilih tempat bersandar. Untung saja, kaki kiri saya tersangkut di salah satu pohon dan yang kanan berhasil dipegang oleh Ferry. Tidak jadi jatuh. Entah bagaimana nasib saya jika keberuntungan itu tidak hinggap, mungkin tulisan ini tidak akan pernah hadir.

Tuhan masih beri saya kesempatan hidup, sekali lagi.

Dua jam berlalu. Cahaya kekuningan mengintip dari celah pepohonan. Menyibak hutan yang sejak semalam tua. Energi yang, seketika juga datang, yang lalu terhirup bersama napas.

Gunung Gede yang berada di seberang juga mulai tampak. Uap tipis keluar dari kawahnya yang menganga, dengan halimun kabut menyelimuti lerengnya. Cantik sekali. Ia bagai kain selendang beludru Drupadi yang tak habis-habis meski Kurawa berusaha menelanjanginya.

Doa saya tahun lalu ketika mendaki Gede, supaya bisa mendaki Pangrango yang berdiri gagah di seberang, tercapai kali ini. Saya termenung, menatap saujana kebalikan dari yang lalu; memandang tubir kawah yang tahun lalu saya pijak, mendapat penyeimbang dari sisi yang berbeda.

Pangrango memang tidak seterkenal Gede. Ia tidak banyak dipilih. Ia bisu di antara hutannya yang pekat, pohon dan jurang yang ganas, dan setapak yang kecil dan curam. Benar yang dikatakan seorang terkenal tentang gunung itu, Pangrango ada bagi yang cinta akan keberanian hidup.

Lepas satu jam berlalu setelah dua jam pertama tadi, saya kembali terpisah dari kelompok. Kali ini bersama Roro dan Pras. Roro bertanya kepada pendaki yang berkemah di jalur, berapa lama lagi sampai puncak?

Pendaki itu menjawab, “Kurang lebih satu jam lagi, Teh,” seraya mengulurkan secangkir teh panas kepada kami.

Mendengar jawaban itu, mental kami menjadi turun. Mulanya saya berpikir, dengan hutan yang mulai terbuka dan Matahari yang sudah membiaskan sinarnya pada pucuk-pucuk pohon, membuat gradasi hijau kekuningan, puncak mungkin 15 menit lagi. Namun ternyata salah.

Apa lacur! Kami sudah di seperempat perjalanan dan mengharuskan untuk berani melanjutkan pendakian.

Kami kemudian beristirahat. Duduk di sebuah batang pohon yang melintang. Mengisi kembali tenaga dan energi yang lungsur dengan minuman dan kudapan, serta pemandangan indah di seberang sana, sembari berharap agar kekuatan terus ada.

Ketika tangan sudah terasa kebas kedinginan, sementara Roro berkeinginan untuk menunggu lainnya yang entah berada di mana, saya memutuskan untuk berjalan mendahului. Mengulur jarak di belakang Pras, saya kembali menyusuri jalanan sempit Pangrango. Batang-batang pohon terus diraih. Saya sudah berada di momen tidak lagi-lagi bertanya di mana puncak, harus berapa lama lagi mendaki. Tidak. Saya hanya berjalan, melepaskan risau, terus melipat dan melipat jarak menuju 3019 meter di atas laut.

Benar adanya. Saya akhirnya tiba di Puncak Pangrango. Puncak yang memiliki luas tidak lebih dari setengah lapangan badminton! Kecil sekali. Hanya pondokan kayu dan tugu yang terkenal. Di seberang, Gede masih menganga.

***

Setelah semua dari kami satu per satu sampai di puncak dan usai berfoto, kami menyusuri hutan menuju Lembah Mandalawangi. Tidak lama. Hanya lima menit berjalan santai.

Di lembah ini, Matahari bersinar puas. Lembah yang sunyi dan kecil. Edelweiss bermekaran dengan kumbang-kumbang hinggap, berusaha mengambil serbuk sarinya.

Saya rebahkan tubuh di tanahnya yang bisu, di bawah batang edelweiss yang kuat. Bercengkerama bersama Roro. Mengamati tenda-tenda di balik-balik pohon di sudut-sudut. Orang lalu lalang.

Saya kagum dengan pendaki yang berkemah di Mandalawangi. Jalur yang kecil dan curam berhasil dilalui dengan membawa carrier-carrier besar. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka harus melompat, mengolong, dan merayap pada pohon. Luar biasa!

Namun, gunung adalah surga. Adalah candu. Selalu dirindukan. Ia akan terus menarikmu untuk kembali pada puncak dan lembahnya, lagi dan lagi. Kau tidak akan peduli betapa susahnya jalan yang dilalui, betapa lelah dan hausnya, betapa emosi yang dirusak sekaligus dibungkam, gunung selalu punya bayaran untuk semua.

Gunung, membuat saya tidak peduli akan ada atau tidaknya sinyal selular, terhadap internet. 2G sampai 4G, saya tidak peduli. Bahkan saya menyetel perangkat dalam keadaan Airplane Mode. Saya percaya, gunung akan memberi saya sesuatu melebihi apapun.

Ketika memasuki pintu rimba, tibalah bagi saya mengucapan selamat tinggal sementara pada sinyal. Memasuki pintu rimba, tibalah bagi saya untuk hilang beberapa waktu. Memasuki pintu rimba, tibalah bagi saya untuk bersenggama bersama alam raya.

Setelah itu, saya akan kembali dengan membawa energi baru, yang lebih menghargai hidup.

Gede – Pangrango yang membuat letih. Gede – Pangrango yang selalu tampak dari udara Jakarta, yang diimpikan didaki ketika remaja. Gede – Pangrango, yang genap telah saya daki.

Jangan sepelekan sumpahmu, karena kelak, suara yang muncul dari dalam hatimu itu akan menjadi nyata. Ia hadir oleh misteri alam rimba. Hutannya adalah mata dan telinga yang mampu merekam inginmu. Kabutnya adalah energi yang memberikan keberanian, tanpa kau sadari.

***

Sementara Pangrango dan Mandalawangi adalah tanah bagi abu dari seseorang yang begitu mencintai ribaannya. Seseorang yang bicara bahwa hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar.*

* Dikutip dari puisi Mandalawangi – Pangrango karya Soe Hok-gie.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *