Tidak Ada Kebetulan di Lawu

Di base camp Cemoro Sewu, saya dan Roro dipertemukan dengan empat remaja ini, yang barangkali, jika hal itu tidak terjadi, perjalanan Lawu tidak akan seasyik ini.

***

Mobil putih milik Roro melaju perlahan di jalanan entah di mana. Aspal berlubang; kanan dan kiri ladang jati, yang batang-batangnya, melengkung-lengkung bagai deretan penjor.

“Ini di mana, Coy?” celetuk saya sambil membuat video untuk Instastory.

Seketika Roro semakin memelankan laju mobilnya sambil membuka kaca mobilnya, katanya, “Kalau tempat kayak ini sih enaknya buka jendela,” dan angin sejuk pun berembus.

Ini adalah perjalanan perdana kami. Cukup nekat, karena kami memberanikan diri untuk mendaki Gunung Lawu berdua. Antara saya dan Roro juga sebenarnya belum kenal terlalu lama, belum genap satu tahun. Pun kami baru bertemu satu kali di Bandung, Mei lalu, setelah perkenalan pertama.

Aneh? Tidak juga. Jika Anda bertemu seseorang yang memiliki frekuensi yang sama dengan Anda, maka waktu akan bersifat fana.

Rencana pendakian Lawu pun hanya berawal dari sebuah perbincangan tak serius di What’sApp .

“Lawu, yuk, Ro? Berdua saja. Berani enggak?”

“Berani, Wid. Tapi tidurnya jangan dipegang-pegang ya.”

Maka jadilah kami di sini, di jalan raya Tawangmangu yang berkelok menanjak dan menurun. Lawu tidak tampak. Ia tertutup kabut. Udara dingin pegunungan menyusup permukaan kulit. Jantung berdebar, rasa yang selalu datang ketika hendak mendaki gunung. Sebentar lagi sampai.

Kehangatan Base camp Cemoro Sewu

Ini bukan suatu kebetulan. Saya dan Roro seolah tidak diizinkan untuk mendaki berdua saja. Ketika saya berjalan ingin mengambil barang di mobil, saya disapa oleh seseorang bernama Alfian. Ia bertanya-tanya, apakah bisa ikut pendakian, karena ia hanya berdua bersama temannya, Hanif, dan belum pernah mendaki Lawu.

Gayung bersambut. Kebetulan, saya dan Roro juga hanya berdua, pun belum pernah mendaki Lawu.

“Tentu boleh. Tapi kami baru akan mulai mendaki besok pagi,” jawab saya.

Ndak apa-apa, Mbak. Kami juga akan mendaki besok,” ucap Al.

“Baik. Mari masuk. Saya kenalkan dengan teman saya. Ia ada di base camp .”

***

Malam di Cemoro Sewu terasa hangat. 15°C. Di halaman rumah kecil yang, pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin mendaki Lawu. Saya, Roro, Alfian, Hanif, beberapa teman base camp , dan dua orang dari Jakarta yang baru saja turun gunung, bercakap sederhana, melingkari api elang.

“Sebenarnya pantangan mendaki Lawu, tidak saklek, Mbak,” ujar Budi, seorang teman base camp Cemoro Sewu, ketika saya bertanya mengenai pantangan dalam pendakian Lawu.

Ia melanjutkan, “Misalnya saja larangan penggunaan baju berwarna hijau. Bukan lalu melarang semua baju hijau, tapi baju hijau dari kain sutra, juga baju batik melati. Nah, sekarang siapa pendaki yang memakai kain sutra atau baju batik melati? Kalau pun itu ada, pasti tujuannya sudah lain. Semua celana itu menutupi saja, mencapai dengan niat baik.”

“Seperti masuk ke rumah orang lain saja, Mbak, ciuman laku baik,” sambung Bambang, teman base camp lain.

Saya mafhum, bahwa dua perihal di atas sangat masuk akal, dan seharusnya, mudah untuk dijalani. Tidak hanya di Lawu, melainkan juga di mana saja, di tempat-tempat yang kita singgahi, tugas kita hanya menjadi manusia.

Saya kemudian bertanya mengenai suhu di Lawu kepada teman base camp . Ada kekhawatiran yang cukup besar mengenai hal itu. Pasalnya, pada bulan Mei sampai dengan Agustus, bagian selatan Indonesia mengalami gangguan. Anomali cuaca yang berasal dari angin dingin Australia membuat suhu di pesisir selatan Indonesia, menjadi dingin di tengah musim kemarau. Parahnya lagi, di beberapa gunung di Jawa, embun-embun membeku menjadi bun upas. Ditambah dengan cerita adik saya bahwa dari banyaknya gunung yang sudah ia daki, Lawu adalah yang terdingin.

“Malam lalu di Mbok Yem mencapai -3°C, Mbak,” jawab Bambang.

Mengenai suhu ekstrem ini juga rutin saya berdiskusi dengan Roro di hari-hari sebelum keberangkatan.

“Nanti beli selimut darurat , Ro. Buat jaga-jaga, tapi semoga sih enggak terpakai ya,” tulis saya di What’sApp waktu lalu.

Saya juga teringat perjalanan Semeru , Agustus 2018 lalu, ketika harus mundur selama tiga hari karena permasalahan SIMAKSI. Namun, pada akhirnya tahu, bahwa saya dihindarkan dari suhu -7°C di Ranu Kumbolo pada interval tiga hari itu. Tuhan memang selalu punya rencana.

Satu per satu balok kayu dimasukkan oleh teman base camp ke tungku perapian, di halaman depan rumah base camp . Seketika api yang semula redup kembali membara.

“Di Lawu ada edelweis merah, Mbak,” ucap Budi. Ia kemudian menampilkan foto-foto edelweiss merah yang tersimpan di gawainya, melanjutkan, “cantigi juga banyak, dan tinggi-tinggi.”

Begitulah kiranya malam dingin di kaki Lawu yang berubah menjadi suka sederhana. Kami tidak mengenal usia, tidak mengenal golongan, tidak memandang siapa yang lebih banyak mendaki dari yang lainnya, karena di gunung, kami hanya manusia yang sama. Lawu, selalu beri izin siapa saja untuk menginjakkan kaki di mandaranya. Lawu, menerima siapa saja yang mampu berselaras dengannya.

Jalak Lawu si Penunjuk Arah

Selasa, 2 Juli 2019. 09.30 pagi. Saya, Roro, Alfian, dan Hanif, siap memulai pendakian. Oiya, dua orang dari Jepara juga bergabung dengan kami. Tedy dan Bagas. Kami berkenalan di warung makan ketika sarapan. Jadilah kami enam orang yang ditemukan di Cemoro Sewu untuk mendaki Lawu.

Kebetulan? Tidak. Tuhan tidak mengizinkan doa-doa orang untuk mendaki Lawu. Ia merencanakan enam orang untuk menginjakkan kaki di Lawu secara bersama.

***

Kulonuwun ,” ucapku dalam hati ketika melewati gapura Cemoro Sewu, mulai memasuki Lawu. Menapaki jalan berbatu yang landai dengan hutan yang tidak pekat. Langkah kaki saya ayun perlahan dengan tempo yang konstan.

Lepas satu setengah jam, kami tiba di Wes-wesan. Berisitirahat di shelter , sementara warung tutup. Oiya, di Lawu terdapat beberapa warung di pos-pos pendakiannya, seperti di Pos Wes-wesan ini, Watu Gedeg, Jolotundo, dan Hargo Dalem. Untuk di Hargo Dalem, namanya sungguh melekat dengan Lawu; Warung Mbok Yem.

Tujuan pendakian kami hari ini tentu saja bisa sampai Mbok Yem. Selain namanya yang melegenda, Warung Mbok Yem, bagi kami, merupakan titik aman jika kejadian buruk yang tidak diharapkan menimpa. Namun, itu bergantung pada fisik kami. Jika tidak memungkinkan, tentu tidak masalah. Kami akan mengikuti hari akan membawa kami.

Dari Wes-wesan, kami melanjutkan perjalanan menuju Watu Gedeg. Informasi yang kami dapat, ini adalah perjalanan terpanjang yang akan ditempuh, bisa memakan waktu antara dua sampai tiga jam. Jalanan mulai menukik tajam dengan batu-batu besar berserakan di sisi kiri. Sementara di kanan, saujana lepas memanjakan mata. Aroma belerang dari Kawah Candradimuka mulai terhirup, meski tidak pekat.

Setiap interval lima belas menit kami berisitirahat selama kurang lebih dua menit. Bersandar pada batu-batu atau pepohonan. Mengatur napas yang tersengal, mengembalikan detak jantung yang semula berdegub kencang untuk kembali normal.

Burung jalak hilir mudik menemani langkah kami. Kadang-kadang ia melompat kecil di depan kami, lalu ia terbang, dan hingga mengomel-komel. Mereka pun selalu datang berdua-dua. Mereka tidak akan meninggalkanmu. Mereka akan menuntun jalanmu. Jika kamu tersesat, serahkanlah langkahmu pada burung dengan bulu abu dan paruh oranye itu, maka mereka akan membantumu.

Alam tidak diam. Ia hidup seperti napasmu jika kau mampu berselaras dengannya.

Dua jam berlalu dari Wes-wesan, di Lawu, batu masih tak beraturan. Kami tiba di Watu Gedeg. Saya melihat perhiasan di tangan. Waktu menunjukkan jam setengah satu siang. Di dalam shelter , kami memutuskan untuk berisitirahat lebih lama untuk makan siang dan salat. Saya dan Roro membuka nasi bungkus yang dibeli di warung tadi. Sementara yang lainnya memasak mie instan yang dibawa.

Kami juga bercengekerama denganpendaki lain yang dijumpai di pos ini. Hawa dingin gunung terhempas oleh hangatnya tawa; berbagi makanan dan minuman; ditemani siul angin serta kerisik dahan pohon, dan inilah candu, yang akan selalu memanggilmu untuk kembali ke gunung.

Lepas beritirahat, kami meninggalkan Watu Gedeg, melanjutkan perjalanan. Trek dari Watu Gedeg menuju Watu Gede adalah yang terparah. Naik tiada ampun. Jalanan berbatu yang benar-benar menguji mental. Dia beringas. Membuat kami untuk berisitirahat sejenak lebih banyak.

Trekk -nya begini amat, ya Allah,” celetuk Roro yang berjalan di depan saya.

Saya terkekeh, pun mengiyakan apa yang diucapkan oleh Roro, kemudian berujar, “Batu-batu ini kayak dilempar asal sama Tuhan. Sembari melempar, Tuhan bilang, ini buat kalian!”

Setiap melompat dengan pendaki yang turun, kami bertanya, apakah pos selanjutnya masih lama? Kebanyakan dari mereka menjawab, “Enggak kok .Sebentar lagi.”

Namun, di gunung, tidak ada waktu yang pasti. Tidak bisa percaya sepenuhnya pada perkataan seseorang. Mungkin saja, mereka memberi semangat, alih-alih mengatakan kebenaran bahwa pos selanjutnya masih jauh, atau masih sangat jauh, atau jauh sekali.

Dua jam berlalu dari Watu Gedeg, kami tiba di Watu Gede. Beristirahat selama lima belas menit. Menikmati kudapan. Lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Trek menuju pos selanjutnya, Watu Kapur, tidak kalah beringasnya. Malahan semakin pembohong. Berkali saya mengumpat dalam hati. Kesal! Kabut pun mulai turun. Saya khawatir, kami tidak mampu berlomba dengan gelap. Maka penjelasannya adalah terus berjalan secara perlahan.

Sesampainya di Watu Kapur, Matahari mulai condong menuju Barat. Sinarnya menghangatkan kami. Tampaknya memberi kami tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Menguatkan kaki kami untuk melintasi jalan berbatu yang, kali ini, landai.

Satu jam berlalu dari Watu Kapur, kami tiba di Jolotundo. Semua lelah. Semua lapar. Di Jolotundo, angin berembus kencang.

“Kita enggak bisa camp di sini. Terbuka banget. Anginnya terlalu besar,” ucap Roro yang diiyakan oleh lainnya. Maka, kami kembali berjalan.

Hingga senja tiba, kami tiba di Sedang Drajat. Kami pun memutuskan untuk berkemah di sini. Selain warung, juga terdapat mata air sehingga kami dapat mengambil udara untuk keperluan logistik, serta area yang lebih tertutup, terlindungi dari angin.

Malam berlalu sederhana. Tenda-tenda berdiri di sudut-sudut. Menyisakan suara manusia yang juga letih, lepas menempuh perjalanan yang sama. 3000 meter di atas permukaan udara laut. 13°C.

***

Sementara itu, Sendang Drajat dipercaya sebagai petilasan Prabu Bhre Kertabumi. Konon katanya, jika seseorang menemukan air di Sendang Drajat dalam keadaan penuh, maka akan diberikan laporan rezeki. Namun, jika seseorang menemukan kolam dalam keadaan kering, rejekinya pun akan sekering sendang.

“Kulonuwun, Mbah.Nyuwun tirtanipun, nggih,” gumam saya dalam hati.

Eh, sebentar. Ada tulisan “Alas Kaki Dilepas”.

Saya kemudian melepas sepatu lalu berjalan mindik-mindik menuruni tangga menuju dasar sendang, akan mengambil udara. Saya celingak-celinguk, “Mana mata airnya?” lagi-lagi saya sesak dalam hati. Saya lalu mengambil udara dari sebuah kubangan kecil, entah air apa. Sendang kering.

Amsyong!

Tapi, sebentar. Bukankah sedang musim kemarau?