Sebuah Risalah Tentang Mengarang Itu Gampang

Palmerah kali ini terasa berbeda. Angin malam berembus baik hati. Tersisa temaram purnama Bulan kamarin malam menemani lampu-lampu yang masih berpendar dari ruang-ruang gedung tinggi sebuah kantor berita. Suara laju kereta terdengar samar dari kejauhan berlomba bersama deru kendaraan yang tidak akan putus di Ibukota. Orang-orang lalu lalang, bercakap dan bersenda gurau. Saya berdiri di depan Bentara Budaya Jakarta, menunggu untuk bertemu seorang penulis idola, Arswendo Atmowiloto.

***

Di dalam Commuter Line yang tidak begitu ramai pada Jumat malam yang terasa istimewa, saya berusaha menutupi rasa antusias yang berlebihan karena tidak sabar ingin bertemu dan mendapat wejangan dari penulis idola saya itu. Ia yang kita kenal dari karya sinteron Keluarga Cemara akan mengisi sebuah loka karya yang diselenggarakan oleh Harian Kompas dengan tajuk Mengarang Itu Gampang. read more

Jatuh Cinta Pada Rumah W.R. Soepratman

Alangkah sederhanya mencintai negeri ini, hanya memandang segalanya dari dekat. Alangkah mudahnya mencintai para pahlawan negeri ini, hanya datang dan masuk ke rumah-rumah dan membaca kisahnya.

***

Ojek daring yang saya tumpangi masuk ke sebuah gang kecil dengan jalanan mortar cetak yang ramah, di tengah Kota Surabaya. Pak pengemudi hafal betul ketika harus belok kanan atau kiri. Sepertinya ia sudah pernah ke sini, mengantarkan penumpang lain. Di Surabaya yang terik, saya akan menceritakan kepada kau tentang rasa jatuh cinta untuk pertama kali kepada rumah ini dan segala yang ada di dalamnya. read more

Sembuh Sekali Lagi di Gunung Gede

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.”

—Pramoedya Ananta Toer—

***

Ini hari Minggu. Mentari malu-malu menyibakkan malai-malai edelweiss yang bergerak menari, membentuk bayang-bayang di balik tenda. Suara orang berbincang sederhana di luar, berusaha mencari kehangatan dari kopi pagi hari. Di dalam kantung tidur, saya sekuat tenaga meluruskan kaki yang linu luar biasa. Meregangkan otot-otot yang sejak kemarin bekerja keras. Masih di Surya Kencana, di awal Juli. read more

Bunga Senduro di Surya Kencana

Take nothing but picture.

Leave nothing but foot print.

Kill nothing but time.

-Baltimore Grotto Org.-

Kata orang, Surya Kencana dan Mandalawangi adalah rumah terakhir untuk senduro. Di Bromo, bunga itu sudah punah. Habis dimakan oleh tangan-tangan jahil manusia yang memetik dan menaruhnya di pot dan diletakkan pada sudut rumah. Ia juga pernah menjadi pengganti mawar sebagai lambang keabadian cinta. Rumahmu bukan rumahnya. Maka, jangan pernah memetik senduro. Biarkan ia mekar abadi di rumahnya sendiri, di Surya Kencana. read more

Gadis Pantai di Pantai Amnesia

“Hari demi hari batinnya diisi derai ombak dan pandangannya oleh perahu-perahu yang berangkat di subuh hari pulang di siang atau sore hari, berlabuh di muara, menurunkan ikan tangkapan dan menunggu besok sampai kantor lelang buka.” (Pramoedya, 2013;11)

Matahari mulai condong ke sisi Timur Laut langit, ketika kami—saya dan seorang kenalan—sedikit menepi meninggalkan pusat kota. Sebelas kilometer timur Rembang, menyusuri jalan Pantura, saya menembus sebuah dimensi waktu, masuk ke sebuah masa ketika Gubernur Guntur memimpin dengan keji. Genosida yang terjadi dalam sebuah proyek pelebaran jalan Anyer – Panarukan. Jalan terbaik dan terpanjang di masanya, kuburan terluas di Pulau Jawa. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. read more