Ketika menulis novel perdana, Mandara, selain menciptakan tokoh karakter dan konfliknya, saya merasa harus mengetahui keadaan rumahnya. Rumah adalah ruang penciptaan diri, bagaimana ia hadir, ia berpikir dan bertindak. Maka secara khusus, saya menyediakan waktu untuk merancang rumah para aktor yang bercerita. Merancang rumah dalam novel, bukan hanya pemilihan dinding, lantai, dan atap, atau menentukan sudut yang tepat untuk mendapatkan cahaya matahari pagi agar novel memiliki nuansa sinematik, tapi juga tentang tata atur antar ruang dengan tautan lingkungan sekitarnya. Ini adalah tentang cipta, rasa, dan karsa.