Kopi di Selimut Kabut Ranu Kumbolo

Tidak perlu nama untuk sekedar berbagi. Datang dari berbagai negeri, duduk mengelilingi api unggun, berbagi cerita dan tawa tanpa syarat. Di depan sana, danau yang selalu berselimut kabut, Ranu Kumbolo, menemani kami di malam penuh bintang.

***

Warung masih kosong, pintu belum sepenuhnya terbuka, hanya satu daun. Kami—saya, tante saya Murni, beserta guide dan seorang kru dari Dome Explorers , Angga dan Tukul— duduk di kursi meja depan dapur, biar hangat dekat kompor. Pagi baru saja jadi, tetapi Matahari sudah puas. Sinarnya memantul dengan keras, memberi halo-halo pada kaca jendela. Kami memesan beberapa menu untuk sarapan. Tujuhbelas derajat selsius di Warung Bagus, Ranu Pani. read more

Jatuh Cinta Pada Rumah W.R. Soepratman

Alangkah sederhanya mencintai negeri ini, hanya memandang semuanya dari dekat. Alangkah mudahnya mencintai para pahlawan negeri ini, hanya datang dan masuk ke rumah-rumah dan membaca kisahnya.

***

Ojek bold yang saya tumpangi masuk ke sebuah gang kecil dengan jalanan mortar cetak yang ramah, di tengah Kota Surabaya. Pak pengemudi hafal betul ketika harus belok kanan atau kiri. Sepertinya dia sudah pernah ke sini, mengantarkan penumpang lain. Di Surabaya yang terik, saya akan menceritakan kepada Anda tentang rasa jatuh cinta untuk pertama kali ke rumah ini dan segala yang ada di dalamnya. read more

Sembuh Sekali Lagi di Gunung Gede

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa muncul di lautan, di gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.”

—Pramoedya Ananta Toer—

***

Ini hari Minggu. Mentari malu-malu menyibakkan malai-malai edelweiss yang bergerak menari, membentuk bayang-bayang di belakang tenda. Suara orang berbincang sederhana di luar ruangan, berusaha mencari kehangatan dari kopi pagi hari. Di dalam kantung tidur, saya berbohong tentang tenaga berbaring di kaki yang luar biasa. Meregangkan otot-otot yang sejak kemarin bekerja keras. Masih di Surya Kencana, di awal Juli. read more

Bunga Senduro di Surya Kencana

Jangan mengambil apa pun selain gambar.

Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki.

Jangan bunuh apa pun kecuali waktu.

-Organisasi Gua Baltimore-

Kata orang, Surya Kencana dan Mandalawangi adalah rumah terakhir untuk senduro. Di Bromo, bunga itu sudah punah. Kebiasaan dimakan oleh tangan-tangan jahil manusia yang memetik dan menaruhnya di pot dan diletakkan di sudut rumah. Ia juga pernah menjadi pengganti mawar sebagai lambang keabadian cinta. Rumahmu bukan rumahnya. Makanya, jangan pernah memetik senduro. Biarkan ia mekar abadi di rumahnya sendiri, di Surya Kencana. read more

Nyawa Bernama Namaku Pram

PSX_20180428_143603.jpg

Dada ini berdegup kencang ketika membaca kata demi kata cerita tentang Namaku Pram. Kisahnya sebagai manusia bagai botol di tengah lautan, terombang-ambing tiada arti. Bagi banyak orang, ia sampah hanyalah yang mengotori lautan, tapi untuk yang berada, yang lalu membuka tutup pada botol, mengambil kertas yang berada di dalamnya dan membacanya, ia adalah lentera.

***

Suatu siang, saya menyempatkan waktu untuk berkunjung ke ‘Namaku Pram: Catatan dan Arsip’, sebuah pameran yang diselenggarakan di Dia.Lo.Gue Art Gallery, Kemang, beberapa waktu lalu. Bukan tanpa sengaja, perihal Namaku Pram ini memang sudah saya jadwalkan secara khusus. Pram, buat saya adalah sosok yang ingin saya jumpai di masa yang akan datang. read more

Menang Sekali Lagi di Gili Labak

DSC09107-01

BYURR! Air laut menyembur, membasahi tubuh kami—saya dan kapal— yang duduk di haluan. Segala gawai kami simpan di dalam tas, yang juga basah, secara paksa. Udara laut bisa merusak lebih ganas. “Duduk di belakang saja, Mbak,” ucap Mas Ian, kapten kami. Ia melanjutkan “Ombaknya sudah mulai besar.” Bulan penerapan berjalan ke belakang kapal sedangkan saya hanya mampu mengesot mundur seraya menarik tas secara perlahan. Kapal mulai oleng.

***

Pagi ini, kami dalam penyeberangan menuju Gili Labak. Pulau yang ditempati oleh tigapuluh Kepala Keluarga itu berada di sebelah Timur Pulau Madura, masuk ke Kabupaten Sumenep. Sudah sejak semalam kami tiba di Sumenep, setelah melalui perjalanan darat yang melelahkan. Ada beberapa pelabuhan di Sumenep yang melayani perjalanan menuju Gili Labak, seperti Pelabuhan Kalianget, Desa Lobuk, Tanjung, dan Desa Kombang. Kami memilih Pelabuhan Kalianget. read more

Bromo dan Fantasi Tanah Utara

IMG_20180522_084016_HDR-01

Di lembah ini, semua terlihat sempurna. Bukit hijau tua menyambut langit yang biru muda dengan awan putih di bagian tepinya. Di bawah, savana pasir hitam dan ilalang tampak, dihiasi dengan bunga ungu di beberapa malainya. Ini bulan Mei, katanya, waktu yang tepat untuk melihat Nusantara lebih dekat.

***

Bromo pagi ini masih berubah. Pasir hitam itu hanya berteman dengan awan putih. Wewarnaan hanya pada kain-kain sanggah di sudut-sudut suci. Pak Sudar masih melajukan mobil dengan beringas. Tidak peduli dengan liukan serta jalan yang licin oleh sirat kabut yang jatuh pada aspal. read more

Gadis Pantai di Pantai Amnesia

“Hari demi hari batinnya diisi derai ombak dan pandangannya oleh perahu-perahu yang berangkat di subuh hari pulang di siang atau sore hari, berlabuh di muara, menurunkan ikan tangkapan dan menunggu besok sampai kantor lelang buka.” (Pramoedya, 2013;11)

Matahari mulai condong ke sisi Timur Laut langit, ketika kami—saya dan seorang kenalan—sedikit menepi meninggalkan pusat kota. Sebelas kilometer timur Rembang, menyusuri jalan Pantura, saya menembus sebuah dimensi waktu, masuk ke sebuah masa ketika Gubernur Guntur memimpin dengan keji. Genosida yang terjadi dalam sebuah proyek pelebaran jalan Anyer – Panarukan. Jalan terbaik dan terpanjang di masanya, kuburan terluas di Pulau Jawa. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. read more