Malioboro di Sebuah Selasa Wage

Di sebuah sore, kala waktu matahari masih bersinar emas, saya berjalan menyusuri sebuah jalan kecil kampung yang menghubungkan Jalan Mataram dan Malioboro bernama Sosrokusuman. Pada jalanan kecil itu berjajar bangunan yang berfungsi sebagai penginapan, kios kaus dan souvenir khas Yogyakarta, dan warung makan di sisi utara dan dinding tinggi yang dilukis beragam gambar di sisi selatan.

Di sore itu, saya hendak mengikuti sebuah pesta rakyat sederhana yang diselenggarakan tiap Selasa pada pasaran wage.

Selasa Wage adalah peringatan kelahiran Sri Sultan Hamengkubawana X. Jika hari itu tiba, sejak pukul 06.00 sampai 21.00 Jalan Malioboro berhenti sejenak. Pedestrian jalan dan lorong-lorong Malioboro yang biasa dipenuhi pedagang kaki lima pun lenggang, libur berjualan. Selain bus Transjogja, kendaraan bermotor pun tidak boleh melintas. Bahkan becak dan andong, kendaraan ciri khas Yogyakarta saja tidak tampak batang hidungnya. Malioboro sepenuhnya milik pejalan kaki, pesepeda, pesepatu roda, peseluncur papan, atau kendaraan pribadi sejenis.

Lepas keluar dari gang Sosrokusuman, dari samping Hotel Mutiara saya berjalan menuju utara Malioboro ke arah Stasiun Tugu ditemani lembayung senja dengan bulan yang nyaris sempurna.

Hari pasaran kali ini spesial, Malioboro Coffee Night ikut menyemarakkan Selasa Wage Malioboro. Setibanya di Loko Coffee Shop, saya mengitari meja-meja yang dipenuhi beragam jenis kopi dari berbagai penjaja seluruh Indonesia. Aroma harum kopi tercium melalui hidung sampai ke ubun-ubun! Selain berjualan biji kopi, mereka juga menyediakan segelas kopi gratis bagi pengunjung. Saya mencoba racikan kopi dari beberapa penjaja.

Pandangan saya kemudian tertarik pada satu meja di sisi selatan. Di atas meja itu tidak ada bakul-bakul biji kopi, melainkan beberapa alat yang entah apa itu.

“Wah, mesin apa ini, Mas?” tanya saya kepada lelaki yang berdiri di balik meja.

“Mesin kopi, Mbak,” jawabnya.

“Jadi Mas-nya bukan vendor biji kopi?”

“Bukan, Mbak. Kami produsen mesin kopi manual.”

Seorang lelaki lain yang lebih dewasa menyela kami. “Mbak-nya buatkan kopi sekalian,” ucapnya kepada lelali pertama.

Dengan lancar lelaki pertama tadi kemudian mempraktikkan bagaimana mesin produksi rumahan atau homemade itu bekerja. Ia akan membuat cappuccino untuk saya!

Di sela-sela waktu membuat cappucino, kami berbincang sederhana. Selain menunjukkan cara kerja mesin, lelaki pertama juga mempromosikan kehebatan mesin kopi yang sudah diekspor ke beberapa negara itu.

“Dalam kurun waktu tiga tahun, setelah ribuan cup, saya hanya mengganti satu karet,” ujar lelaki pertama.

“Karetnya beli mana?” tanya saya.

“Dari kami juga,” jawabnya, melanjutkan, “intinya kami sangat memanjakan para pembeli.”

Lelaki kedua juga kemudian ikut dalam perbincangan. Ia bercerita panjang lebar ketika saya bertanya tentang ide awal usahanya ini. Keresahannya mengenai harga mesin kopi yang luar biasa mahalnya. Dengan modal ilmunya sebagai insinyur mesin, ia membuat sebuah mesin tanpa listrik yang juga mampu membuat minuman kopi, sama seperti mesin listrik pada umumnya.

“Intinya saya ingin minum kopi rasa café di rumah, Mbak,” tutup cerita lelaki kedua yang disusul dengan lelaki pertama mengulurkan segelas cappuccino buatannya kepada saya.

Kami bertiga berbincang ringan. Saya bercerita tentang impian saya yang ingin memiliki sebuah warung kopi sederhana dengan harga kopi murah. Tidak perlu interior bagus, warung bambu pun cukup, yang penting nyaman.

“Konsepnya kayak angkringan, Pak,” ucap saya seraya menunjuk satu gerobak angkringan di satu sudut jalan, melanjutkan, “tukang becak tidak takut untuk mampir, karena menurut saya, siapa saja berhak menikmati kopi café enak tanpa harus ngafé.”

Saya pandangi dua benda dengan kemilau keperakan itu sembari berpikir, dengan uang Rp5.000.000 saya sudah bisa memiliki mesin coffee press dan steamer.

Ada Amin, Saudara?

Adaaaaa!

“Semoga saya berjodoh membeli mesinnya ya, Pak,” ucap saya mengakhiri perbincangan lalu pamit undur diri, melangkah riang dengan rasa gembira menggelayut di hati.

***

Sirine pintu lintasan kereta api berbunyi mengaburkan lamunan saya. Orang-orang yang sedang melintas rel berbondong-bondong melewati pintu yang bergerak otomatis itu. Mereka panik, takut kalau-kalau tidak bisa lewat. Terlebih, sebagian besar dari mereka membawa sepeda.

“SIK, SIK! ENTENI!” teriak mereka sambil berebut melewati celah pintu yang mengecil.

Saya tertawa geli melihat kejadian itu. Mereka takut sekali tidak bisa keluar dari area lintasan menuju jalan raya. Padahal kereta masih jauh dan ada petugas yang berdiri di depan pos penjaga lintasan. Saya pernah sekali menghitung jeda waktu antara palang pintu menutup dan kerta lewat; satu menit lebih. Sementara, orang yang berdiri menonton dari balik pintu lintasan pun tak kalah banyak.

Bicara mengenai kereta api yang melintas, ada budaya unik terjadi di Indonesia. Yaitu, menonton kereta lewat! Saya teringat ketika masih kecil dahulu, kerap diajak mendiang kakek saya untuk menonton kereta lewat. Ya di sini, tepat di tempat saya berdiri ini, di depan pintu lintasan kereta api Stasiun Tugu.

Budaya itu masih terjadi sampai sekarang. Bahkan di pintu lintasan kereta api sisi timur Stasiun Lempuyangan, ada odong-odong yang nongkrong menjajakan jasanya sambil nonton kereta lewat. Eh, bukan odong-odongnya yang menjajakan, tapi si Paklik yang punya odong-odong. Ya mosok odong-odong bisa gerak sendiri. Eh odong-odongnya buat anak kecil saja ya. Orang tuanya bagian menyuapi anaknya. Jadi, nyuapin anak sambil naik odong-odong nunggu kereta lewat.

APAAN SIH, WID?

Anu, itu. Nonton kereta lewat sudah jadi hiburan murah meriah buat warga Indonesia.

Baik. Kembali ke Selasa Wage. Dari Loko Coffee Shop, saya berjalan perlahan menuju arah selatan, ke KM 0 Yogyakarta. Saya menghampiri satu kerumunan di depan Hotel Inna Garuda. Satu kelompok keroncong sedang menggelar aksinya. Suara si penyanyi merdu terdengar. Seorang anak kecil tanpa malu-malu berjoget di depan.

Di sisi barat, di depan bengunan Jogja Library Center, sekelompok anak muda sedang mendendangkan satu Indonesia Pusaka dengan satu pemuda di tengah membacakan puisi. Suara pemuda itu terdengar gemetar seperti menahan tangis. Saya paham rasa itu. Rasa yang juga menggelayut di dada ketika saya turut menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus silam di depan Istana Negara Yogyakarta. Ya, setiap berhadapan dengan Tanah Air, kita tak bisa membendung rasa emosi yang mengalir pada darah dan tulang.

Setelah mengambil beberapa foto, saya kembali berjalan. Dari jalan raya, saya memasuki lorong Malioboro. Meski lapak pedagang kaki lima libur, sebagian toko-toko tetap buka menjajakan barang dagangannya.

Dari lorong, saya kembali menuju pesedestrian yang sudah dilebarkan. Pesestrian Malioboro itu disesaki orang-orang. Ada yang duduk-duduk di kursi-kursi yang berada di sepanjang jalan, ada pula yang menggelar tikar seraya menikmati bekal makanan dan minumannya dari rumah. Seperti piknik saja.

Di depan Kepatihan, sebuah instalasi bambu sederhana menjadi medium foto-foto sejarah Yogyakarta dipamerkan. Bambu-bambu itu dipasangi lampu sinar kuning yang membuat suasana lebih syahdu. Tukang cukur di sudut selatan. Sungguh menyenangkan.

Saya terus berjalan di lajur kiri jalan Malioboro. Kerumunan orang perlahan mengosongkan jalan untuk membiarkan bus Transjogja yang perlahan melintas tanpa membunyikan klakson.

Saya terus berjalan sembari melihat bangunan-bangunan di sepanjang Malioboro. Pada satu bangunan setelah gapura Ketandan, saya terhenyak, “Kok ada bangunan ini ya?” bergumam dalam hati, tertegun atas bangunan yang baru saya sadari keberadaannya. Ada nikmat juga jalan sendirian, karena akhirnya tersadar ternyata ada sesuatu yang selama ini terlewatkan.

Saya mampir ke Mirota Batik untuk membeli minyak esensial terlebih dahulu sebelum sampai di ujung selatan Malioboro. Malam telah datang. Biru muda langit sudah berganti dengan yang tua. Lampu-lampu yang menempel di dinding luar Pos Besar dan BNI menyala, menyemarkkan bangunan cagar budaya itu dengan detailnya yang tampak lebih megah.

Saya sempat bertemu dengan teman-teman Komunitas Garuk Sampah. Anak-anak muda itu berkumpul di seberang Gedung BNI dengan sepeda-sepeda high ride-nya.

Kami berbincang sejenak. Mas Bekti memberi tahu saya bahwa dirinya akan pergi ke Bali dengan mengayuh sepeda untuk mengikuti aksi bersih pantai.

“Wah, asyik! Kapan berangkat, Mas?” tanya saya.

“Besok ini, Mbak,” jawab pemuda yang selalu mengenakan surjan dan blankon itu. ia melanjutkan, “jadi aksi garuk sampah besok dikoordinasi oleh Iqbal.”

“Oiya, lokasi garuk sampah besok di mana?”

“Perempatan Mirota Kampus Terban, Mbak. Datang ya,” ujar Bekti.

Bicara garuk sampah, komunitas ini juga menarik perhatian saya. Bermula dari anak-anak muda pengendara sepeda high ride yang gelisah akan sampah visual yang memenuhi jalanan Yogyakarta. Segala spanduk, poster, atau apapun banyak dipasang di bukan tempatnya, yang mengganggu keindagan pandangan kota. Mereka kemudian berinisiatif untuk membersihkan sampah-sampah itu di setiap Rabu malam. Mereka membuka pintu bagi siapa saja, dengan hanya bermodal niat, untuk datang di tempat-tempat yang akan dibersihkan di setiap Rabu malam. Informasi tempat dan lainnya rutin mereka unggah di media sosial Instagram @garuksampah.

“Sampai jumpa besok!” pamit saya kepada teman-teman Garuk Sampah.

Dalam perjalanan kembali pulang ke rumah, saya bergumam dalam hati tentang pengalaman saya menyusuri Malioboro di Selasa Wage. Ini menarik! Membiarkan Malioboro untuk jeda dalam satu Selasa Wage. Menyerahkan jalanan yang biasa dipadati kendaraan yang merambat perlahan dan pedagang kaki lima kepada seluruh warga Yogya.

Tua – muda, kaya – miskin dihapus oleh Selasa Wage Malioboro. Kita bebas berjalan. Bebas pula untuk mampir sana dan sini. Pun saya tidak melihat adanya sampah berserakan di jalan-jalan.

Ini adalah cara baru yang sederhana sebuah rumah bernama Yogyakarta untuk memeluk penghuninya. Teman-teman di luar Yogya yang ingin berkunjung, silakan lihat tanggalan, tempatkanlah Selasa Wage dalam waktu kunjungan, maka kau akan bertemu dengan Yogyakarta yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *