Desa Itu Bernama Sukasari (2)

Setelah semalam akhirnya tidur nyenyak (tidur hangat di dalam rumah dengan sleeping bed), kami bangun subuh, mempersiapkan mengikuti kegiatan warga memetik teh. Setengah enam kami sudah siap di depan rumah, melihat wajah-wajah ayu dengan menggendong bakul rotan besar dengan sepatu boot. Pakaiannya warna-warni menambah ceria wajah mereka, penuh semangat. Ketika saya menuruni dan menyusuri desa, tampak seorang ibu memoles wajahnya dengan bedak dan gincu. Konon, pemetik yang didominasi oleh perempuan diwajibkan dandan untuk memikat para mandor dan tertarik dijadikan istri. Oleh sebab itu, kebanyakan dari wajah mereka seperti wajah londo, memerah, karena keturunan Belanda. Tapi secara logika, kenapa perempuan karena memiliki sifat ketelitian yang melebih laki-laki, terutama untuk teh yang baru pertama kali dipetik. Lalu pada petikan kedua dan seterusnya , laki-laki diperbolahkan ikut memetik.

Dengan jaket dua lapis, saya bergegas keluar rumah lengkap dengan peralatan perang. Lalu memandang ke atas bukit, tampak kelompok orang berbaris berjalan menanjak. Semangat.

“Mau ikut petik, neng?” sapanya yang cukup mengagetkan saya karena terlalu terpesona oleh pemandangan pagi itu.

“Iya, bu. Bolehkah?”

“Boleh. Ayuk bareng ibu jalannya,” ajaknya ramah.

***

(hanya) Sekitar 5km kami berjalan naik turun bukit mengikuti jejak langkah pemetik. Sepatu converse putih kesayangan saya berhasil robek pada sisi kiri dan kanan (dampak salah kostum).

Dan setelah 5km, akhirnya pemetik menghentikan langkah di sebuah pondok, tandanya di situ mereka akan bekerja. 

“Bukit yang ini, mau dipanen. Jadi ada upacara sedikit,” kata sang insinyur sambil menunjuk ke bukit di belakang kami.

Ya, setelah 3 tahun, teh harus dipangkas. Dan teh memerlukan 11 bulan untuk tumbuh kembali. Barulah dapat dipetik untuk pertama kali kembali. Setelah pemetikan pertama, diperlukan waktu 2 bulan untuk memulai pemetikan kedua. Dalam kurun waktu itu teh disemprot agar terbebas dari hama dan penyakit tanaman.

Upacara itu hanya berupa doa-doa yang dipimpin oleh tetua desa. Ada tumpeng kecil nasi kuning dengan hiasan tempe kering, telur, beserta sayur-sayuran di sekelilingnya. Ada juga bubur ketan hitam yang juga sebagai syarat. Dan yang paling utama adalah sajen-sajen yang sudah tersebar di sudut-sudut bukit. Katanya, sebagai ucapan syukur kepada leluhur yang telah memberikan panen berlimpah di tahun sebelumnya. Dan semoga diberikan kembali panen berlimpah tahun berikutnya.

Harapan yang sederhana, hanya untuk kelangsungan hidup. Bukan sebagai suatu bentuk pemujaan terhadap yang gaib, tetapi lebih kepada menjaga kelestarian hidup antara manusia dengan alam. Itulah agama bumi.

*** 

Hanya seminggu sekali mobil pick up datang membawa sembako. Dan janganlah kamu berharap menemukan rokok Go A Head, bahkan Superfine. Yang tersedia hanyalah tembakau beserta kertasnya yang harus kamu gulung sendiri. Dan merokok sendiri. Dan oiya, percaya tidak percaya, rokok jenis tersebut terasa nikmat ketika kita masih berada di tempat dengan suhu rendah. Karena ketika rokok itu sudah berada di Jogja, rasanya tidak manis lagi, sedap tembakaunya hilang.

***

Kemudian keesokan harinya,kami juga mengikuti kegiatan pemetik teh di bukit lain. Ya, banyak bukit teh di sana. Karena memang hanya teh yang memanjakan matamu. Serta birunya langit tentunya. Dan kali ini kami berjalan lebih jauh dari yang kemarin. Jangan tanya rupa sepatu ya. Pemetik santai saja berjalan, jauh meninggalkan kami di belakang yang mungkin tersandung batu atau sambil memotret hijau membiru pemandangan. Begitu juga ketika mereka terampil memetik teh dengan cepat sambil naik turun bukit, sedangkan kami harus terperosok, hanya terlihat tangan di angkat ke atas untuk menyelamatkan kamera.

“Di, kowe ra popo?” (Di, kamu ga pa pa?) tanya seorang teman kepada teman yang jauh tadi.

“Ra popo. Mbak’e ayu.” (Ga pa pa. Mbaknya cantik) jawabnya.

Sontak kami tertawa, dia terjatuh karena asik mengikuti salah satu pemetik teh yang memang ayu parasnya sampai terjatuh. Dan ternyata ia istri mandor. (hahahahahahaha..) kelakuan anak muda.

Beberapa kali saya melihat banyak pemetik mengunyah sesuatu. Setelah saya tanya, ternyata mereka menjadikan daun teh muda sebagai inang.

“Tapi ini manis kok neng. Ngga kayak sirih. Pait. Sok atuh cobain,” kata seseorang pemetik seraya memberitahu saya daun teh yang bisa di buat inang.

Dan setelah mencoba, ampun, saya berhasil dibohongi. “Nginang teh nih gue,” kata saya dalam hati.

“Ah, bapak bohongin saya,” seraya berusaha melawan rasa sepet dan pahit teh mentah yang saya kunyah tadi. 

“Coba lagi atuh neng, lama-lama manis kok,” logat kental Sunda lagi-lagi keluar dari mulutnya.

“Ga ah pak, makasih. Saya ga mau kena tipu bapak untuk kedua kalinya.”

Bapak itu tertawa geli diikuti beberapa ibu-ibu yang juga melihat raut muka saya; sepet.

***

Ya, matahari sudah hampir berada di atas ubun-ubun. Mereka terus asik memetik. 20 bahkan 50 kg daun teh tiap harinya. Dan dijual dengan harga Rp. 500;- per kg. Ada truk-truk melintas untuk mengangkut. Dan ada orang-orang dari pabrik yang menimbang dan mencatat hasil petikan petani. Hasilnya akan dibayarkan pada tiap minggunya di Balai Desa. Gajiaann..

***

Satu yang mungkin tidak bisa terbeli oleh apapun. Keselarasan. Keselarasan antara sesame manusia bahkan manusia dengan alam. Berjalan bersama, memetik bersama, makan siang-pun bersama. Ketika mereka mulai membuka kotak bekalnya masing-masing, disitulah celotehan penghilang rasa lelah datang. Mereka mulai membagi makanan dan minumannya. Membagi kisah kehidupannya. Membagi keluh kesah kehidupan mereka.

Mereka juga membuat sajen bersama, berdoa bersama menurut agamanya. Bersyukur bersama. Puasa bersama. Lalu memanen dan memetik lagi.

Hidup. Nafas. Bumi. Alam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *