Mandara di Balik Layar

Kata orang, menulis novel itu susah. Ia harus selesai. Dari cerita bermula, sebuah novel harus menemukan jawaban.

Menulis novel sudah menjadi impian saya sejak lama. Beberapa judul pernah saya tulis. Perjalanan solo trip Flores, pun cerita tentang persahabatan remaja layaknya AADC pernah ada di laptop. Sayang, mereka tak pernah berhasil sampai titik. Sampai akhirnya saya melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Gunung itu memberi kisah dan membukakan banyak sekali kebetulan. Seolah memberi jalan, bahkan mengantarkan saya pada sejarah keluarga, yang barangkali, tak kan pernah habis ditulis, dan Indonesia punya utang yang tak kan mampu dibayar. read more

Dua Sisi Mata Uang Itu Bernama Sawit

Coba kalian lihat produk-produk yang ada di rumah. Di dapurmu, di kamarmu, kamar mandi, bahkan di atas meja rias. Lihat komposisi pada kemasan. Adakah tertera salah satu dari nama-nama unsur pada foto di atas? Kemungkinan besar, dan sangat besar, pasti ada.

Nama-nama asing itu adalah istilah lain untuk minyak kelapa sawit dan segala turunannya.

Minyak kelapa sawit menjadi primadona para produsen untuk meramu produk-produknya. Harganya yang murah dan beraneka guna adalah kunci minyak kelapa sawit. Seturut yang saya baca, tidak banyak, minyak sawit tidak mudah mencair dalam suhu ruangan. Baik untuk pasta gigimu. Ia juga dipilih karena bisa mengikat warna tanpa memberi rasa. Bagus untuk lipstikmu. Ia juga bisa menjadi bahan yang mampu memberi daya tahan pada suatu produk, alias bahan pengawet alami. Bagus untuk masakanmu. read more

Perempuan dan Banyolan Laki-laki

Apa orang mengira dunia hanya milik lelaki? (Pramoedya Ananta Toer, 2006:435)

***

Tulisan ini akan saya mulai dengan cerita sebuah pengalaman pribadi yang dialami ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Suatu sore, ketika saya sedang bersepeda sendirian untuk membeli peralatan sekolah di toko dekat rumah, seorang laki-laki yang berjalan berlawanan arah, tiba-tiba menyentuh punggung lalu memegang, menekan, dan meremas payudara kanan saya. Ia kemudian berlari secepat kilat, menjauh. Seketika saya hanya berhenti, diam, tidak berbuat apa-apa karena tidak tahu apa maksud kejadian yang baru saja menimpa. Saya hanya menoleh ke belakang, melihat lelaki itu berlari mundur sambil tertawa menghadap ke arah saya. read more

Sebuah Risalah Tentang Mengarang Itu Gampang

Palmerah kali ini terasa berbeda. Angin malam berembus baik hati. Tersisa temaram purnama Bulan kamarin malam menemani lampu-lampu yang masih berpendar dari ruang-ruang gedung tinggi sebuah kantor berita. Suara laju kereta terdengar samar dari kejauhan berlomba bersama deru kendaraan yang tidak akan putus di Ibukota. Orang-orang lalu lalang, bercakap dan bersenda gurau. Saya berdiri di depan Bentara Budaya Jakarta, menunggu untuk bertemu seorang penulis idola, Arswendo Atmowiloto.

***

Di dalam Commuter Line yang tidak begitu ramai pada Jumat malam yang terasa istimewa, saya berusaha menutupi rasa antusias yang berlebihan karena tidak sabar ingin bertemu dan mendapat wejangan dari penulis idola saya itu. Ia yang kita kenal dari karya sinteron Keluarga Cemara akan mengisi sebuah loka karya yang diselenggarakan oleh Harian Kompas dengan tajuk Mengarang Itu Gampang. read more

Nyawa Bernama Namaku Pram

PSX_20180428_143603.jpg

Dada ini berdegup kencang ketika membaca kata demi kata cerita tentang Namaku Pram. Kisahnya sebagai manusia bagai botol di tengah lautan, terombang-ambing tiada arti. Bagi banyak orang, ia hanyalah sampah yang mengotori lautan, tapi untuk yang menemukannya, yang lalu membuka tutup pada botol, mengambil kertas yang berada di dalamnya dan membacanya, ia adalah lentera.

***

Di suatu siang, saya menyempatkan waktu untuk berkunjung ke ‘Namaku Pram: Catatan dan Arsip’, sebuah pameran yang diselenggarakan di Dia.Lo.Gue Art Gallery, Kemang, beberapa waktu lalu. Bukan tanpa sengaja, perihal Namaku Pram ini memang sudah saya jadwalkan secara khusus. Pram, buat saya adalah sosok yang ingin saya jumpai di masa yang akan datang. read more