Perempuan dan Banyolan Laki-laki

Apa orang mengira dunia hanya milik lelaki? (Pramoedya Ananta Toer, 2006:435)

***

Tulisan ini akan saya mulai dengan cerita sebuah pengalaman pribadi yang dialami ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Suatu sore, ketika saya sedang bersepeda sendirian untuk membeli peralatan sekolah di toko dekat rumah, seorang laki-laki yang berjalan berlawanan arah, tiba-tiba menyentuh punggung lalu memegang, menekan, dan meremas payudara kanan saya. Ia kemudian berlari secepat kilat, menjauh. Seketika saya hanya berhenti, diam, tidak berbuat apa-apa karena tidak tahu apa maksud kejadian yang baru saja menimpa. Saya hanya menoleh ke belakang, melihat lelaki itu berlari mundur sambil tertawa menghadap ke arah saya. read more

Please follow and like us:

Sebuah Risalah Tentang Mengarang Itu Gampang

Palmerah kali ini terasa berbeda. Angin malam berembus baik hati. Tersisa temaram purnama Bulan kamarin malam menemani lampu-lampu yang masih berpendar dari ruang-ruang gedung tinggi sebuah kantor berita. Suara laju kereta terdengar samar dari kejauhan berlomba bersama deru kendaraan yang tidak akan putus di Ibukota. Orang-orang lalu lalang, bercakap dan bersenda gurau. Saya berdiri di depan Bentara Budaya Jakarta, menunggu untuk bertemu seorang penulis idola, Arswendo Atmowiloto.

***

Di dalam Commuter Line yang tidak begitu ramai pada Jumat malam yang terasa istimewa, saya berusaha menutupi rasa antusias yang berlebihan karena tidak sabar ingin bertemu dan mendapat wejangan dari penulis idola saya itu. Ia yang kita kenal dari karya sinteron Keluarga Cemara akan mengisi sebuah loka karya yang diselenggarakan oleh Harian Kompas dengan tajuk Mengarang Itu Gampang. read more

Please follow and like us:

Nyawa Bernama Namaku Pram

PSX_20180428_143603.jpg

Dada ini berdegup kencang ketika membaca kata demi kata cerita tentang Namaku Pram. Kisahnya sebagai manusia bagai botol di tengah lautan, terombang-ambing tiada arti. Bagi banyak orang, ia hanyalah sampah yang mengotori lautan, tapi untuk yang menemukannya, yang lalu membuka tutup pada botol, mengambil kertas yang berada di dalamnya dan membacanya, ia adalah lentera.

***

Di suatu siang, saya menyempatkan waktu untuk berkunjung ke ‘Namaku Pram: Catatan dan Arsip’, sebuah pameran yang diselenggarakan di Dia.Lo.Gue Art Gallery, Kemang, beberapa waktu lalu. Bukan tanpa sengaja, perihal Namaku Pram ini memang sudah saya jadwalkan secara khusus. Pram, buat saya adalah sosok yang ingin saya jumpai di masa yang akan datang. read more

Please follow and like us: