Cerita Tentang Cita-cita dan Kado yang Sama

Hari ini, 15 September 1999, tepat 18 tahun umurmu. Seusai membantu ayah mencuci jaring di teluk, aku lekas berlari menuju rumah. Ibu bertanya, mengapa aku tergopoh-gopoh sebegitu?

Aku jawab dari kamar tidur, “Ia berulang tahun, Bu”.

Di meja, sudah kusiapkan cokelat yang kubeli dari toko kelontong dekat rumah, sepulang sekolah tadi siang. Cokelat itu kubalut dengan pita merah. Kado yang sama, setiap tahun.

Setelah mandi, segera aku berpamitan dengan orang tua, dan bergegas pergi. Ibu berpesan. Katanya,“Jangan terlalu malam pulangnya, Nak. Suruh dia mengantarmu. Ini musim hujan.”

Aku berjalan cepat. Nyaris berlari. Kado kugenggam kuat agar tak jatuh. Riang hati kulewati kebun singkong milik Mbah Bejo, tetangga depan rumah. Berjalan gembira menuju tempat kami—aku dan lelaki yang sedang berulang tahun itu—berjanji bertemu. Di sana, di ceruk pantai tenggara.

Aku berjalan semakin cepat, karena sepertinya terlambat dari janji waktu yang telah disepakati.

Memang benar, ketika aku sampai ke tempat itu, dia sudah duduk menunggu di mulut gua gamping.

Aku menghampirinya. Kubisikkan, “Selamat ulang tahun.” Kusodorkan  kado itu kepadanya.

“Kado yang sama,” katanya.

Aku tersenyum sambil mengatur napas yang tersengal hebat.

“Kamu selalu memberikan cokelat berbalut pita hijau pada tiap ulang tahunku. Sama seperti aku selalu memberikan apel hijau berpita merah yang kamu bilang seperti pohon Natal itu.”

Dia diam sejenak melihat kado yang kubawa. Lalu kembali berujar, “Terimakasih.”

Aku tersenyum. Tidak bisa berkata-kata karena napas yang masih tersengal. Mataku hanya bisa melihat wajahnya. Paras dengan lesung di pipinya itu. Kamu, sungguh manis, aku bergumam dalam hati.

“Duduklah,” dia mempersilakan tempat di sampingnya. Kami duduk beralaskan daun pisang, entah diambil dari mana. Kemudian kami bercengkerama, bertukar kisah tentang cita-cita. Katanya, dia ingin sekali menjadi geolog.

“Apa itu geolog?,” aku bertanya heran. Rasanya istilah itu asing di telingaku.

“Geolog adalah seseorang yang ahli di bidang kebumian,” jelasnya.

Dahiku mengerut, tanda masih belum mengerti.

“Seorang geolog, akan mencari fakta masa kini dari suatu proses yang terjadi pada masa lalu, melalui batu-batu, gunung-gunung, atau sungai-sungai.

Aku mulai paham.“Karena kesukaanmu pada gua dan sungai?” aku bertanya untuk meyakinkan.

Kamu mengangguk. Lalu terus bercerita bagaimana usia peradaban bisa diketahui melalui batu. Atau, bagaimana gunung terbentuk. Atau juga, bagaimana gempa bisa terjadi. Tentang air yang menetes dari dinding atas gua, lalu membentuk batuan di bawahnya.

Hanya kami berdua di sana, di rahang gua gamping di ceruk tenggara. Sunyi, hanya gaung suara kami. Kelelawar yang selalu merajalela di malam hari dengan bunyi-bunyian aneh saja hening di balik kantung sayapnya. Hanya terdengar deburan ombak. Pada tepian pandang, bias lampu mercusuar tampak berputar. Ribuan kuadrat bintang berkilap-kilap pada langit jernih.

Kamu bilang; “Tumben tidak hujan.”

“Ya, barangkali hujan paham, kali ini ada baiknya dia tidak datang. Agar kita bisa beratap bintang. Bintang, tempatku akan menggantungkan banyak cita-cita.”

***

Akhirnya kamu mengantarku pulang. Ketika melewati sawah milik lelaki tua yang selalu menembang, kamu menggenggam tanganku. Aku tidak bertanya, hanya mendengarkan bunyi jangkrikkrik krik krik..

Ketika sampai di rumah, kamu berterima kasih kepada Ibu, karena sudah mengizinkan aku untuk keluar hingga malam.

Lalu kamu bilang padaku; “Terimakasih atas kado yang sama.” Kamu menunjuk cokelat itu.

“Terimakasih untuk cerita cita-citanya,” jawabku.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *