Mandara di Balik Layar

Kata orang, menulis novel itu susah. Ia harus selesai. Dari cerita bermula, sebuah novel harus menemukan jawaban.

Menulis novel sudah menjadi impian saya sejak lama. Beberapa judul pernah saya tulis. Perjalanan solo trip Flores, pun cerita tentang persahabatan remaja layaknya AADC pernah ada di laptop. Sayang, mereka tak pernah berhasil sampai titik. Sampai akhirnya saya melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Gunung itu memberi kisah dan membukakan banyak sekali kebetulan. Seolah memberi jalan, bahkan mengantarkan saya pada sejarah keluarga, yang barangkali, tak kan pernah habis ditulis, dan Indonesia punya utang yang tak kan mampu dibayar. read more

Gadis Pelantun Ovos Omnes

Langkahnya cepat seperti berlari. Antara kaki kanan dan kirinya ia ayun pendek-pendek tapi cepat. Jantungnya berdegub cepat seperti seseorang remaja yang sedang jatuh cinta.

Ia memang sedang jatuh cinta. Namun jatuh cintanya itu bukan jatuh cinta biasa seperti kepada seorang pria. Ia baru saja meninggalkan Gereja Kathedral Larantuka setelah mendapatkan berita tentang dirinya yang terpilih menjadi pelantun Ovos Omnes atau nyanyian ratapan pada perayaan Jumat Agung di Semana Santa, sebuah tradisi menjelang Paskah yang rutin tiap tahun digelar di Larantuka, tahun ini. Maka ia tak sabar ingin cepat sampai rumah untuk memberitahukan kabar baik itu kepada neneknya. read more

Dua Sisi Mata Uang Itu Bernama Sawit

Coba kalian lihat produk-produk yang ada di rumah. Di dapurmu, di kamarmu, kamar mandi, bahkan di atas meja rias. Lihat komposisi pada kemasan. Adakah tertera salah satu dari nama-nama unsur pada foto di atas? Kemungkinan besar, dan sangat besar, pasti ada.

Nama-nama asing itu adalah istilah lain untuk minyak kelapa sawit dan segala turunannya.

Minyak kelapa sawit menjadi primadona para produsen untuk meramu produk-produknya. Harganya yang murah dan beraneka guna adalah kunci minyak kelapa sawit. Seturut yang saya baca, tidak banyak, minyak sawit tidak mudah mencair dalam suhu ruangan. Baik untuk pasta gigimu. Ia juga dipilih karena bisa mengikat warna tanpa memberi rasa. Bagus untuk lipstikmu. Ia juga bisa menjadi bahan yang mampu memberi daya tahan pada suatu produk, alias bahan pengawet alami. Bagus untuk masakanmu. read more

Mimpi Bermula di Tunggilis

Kopi. Barangkali hanya ialah yang ingin saya pelajari. Bagaimana ia akan berbuah hijau lalu menguning lalu memerah dan matang. Ada cita-cita sederhana; tentang sebuah rumah kecil di tengah hutan kopi dengan pohon-pohon tinggi lain, yang ingin saya miliki, kelak.

Di Tunggilis, cita-cita itu bermula.

Taksi online yang kami tumpangi berbelok ke kiri dari Jalan Raya Puncak, menyusuri jalanan kampung nan sempit. Di beberapa sudut, warga yang sedang duduk-duduk di pinggiran jalan, terpaksa harus lebih menepi untuk mempersilakan mobil yang kami-saya, Ika, dan Mas Rey-tumpangi, bisa lewat. Tak terbayangkan oleh saya andai saja berhadapan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. read more

Rumah Pohon, Saksi Bisu Hutan Sarongge Melebat

Sarongge yang terik. Kami-saya, Ika, dan Mas Rey-melompat naik ke mobil bak terbuka, menumpang sampai ke pondok karyawan kebun stroberi, tujuan akhir mobil. Di hadapan kami, hamparan cokelat tanah ladang yang ditanami hijau, kuning, merah sayur dan buah. Jauh di sana, membentang Gunung Geulis, yang morfologinya seperti seorang perempuan tertidur. Sementara sudut lain, Gunung Gede dengan gelayut awan menutupi puncaknya.

Jalanan yang kami lalui berupa jalan mortar yang tidak rata. Bergelombang dan mengelupas. Wajar. Tiap hari, jalanan yang memiliki kontur itu dilalui mobil bak terbuka, mengangkut penuh hasil ladang. Di atas bak terbuka mobil tumpangan, kami duduk bergelinjang dengan pemandangan yang amatlah amboi. read more

Merawat Pohon Adopsi di Kaliadem

Tarikh 2 Desember 2019.

Pagi masih dini bagi saya. Yogyakarta, jam tujuh pagi, ketika saya meluncurkan sepeda motor menuju Koperasi Mahasiswa Universitas Gajah Mada (Kopma UGM), tempat yang sudah disepakati bersama teman-teman Relawan Lindungi Hutan Yogyakarta, berjanji bertemu. Kemudian, kami akan bergegas menuju Kaliadem, tempat pohon-pohon adopsi yang ditanam pada Hari Bumi lalu.

Saya, bersama Hanif, Deni, Sekar, dan Hilmy, lepas sarapan di Kopma UGM, menyusuri Jalan Kaliurang menuju utara. Ketika tiba di Kilometer 14, kami berbelok ke arah timur, menuju Jalan Pamungkas lalu terus melaju ke utara, dan kemudian berhenti di kawasan wisata Kaliadem, tempat jip-jip lalu lalang menebar debu. read more

Janji Merapi Pada Sebuah Labuhan

Hamemayu Hayuning Bawono. Ia adalah sebuah nilai luhur yang dipegang oleh masyarakat Jawa untuk menjaga kelestarian dan keselarasan alamnya. Apa yang sudah dimuntahkan, semestinya dikembalikan. Bahkan ketika pohon dan ilalang terbakar oleh abu vulkanis, sang gunung akan menghijaukan kembali yang telah cokelat oleh unsur haranya. Maka, ambilah secukupnya agar alam yang hidup itu akan terus hidup.

Waktu menunjukkan pukul delapan pagi ketika saya tiba di Dusun Kinahrejo setelah melakukan perjalanan kurang lebih setengah jam dari rumah teman, Diena, di Rejodani. Saya sengaja menginap di kediamannya karena rumahnya itu dekat dengan tempat Labuhan Merapi digelar. Kehadiran saya adalah untuk menggenapi rangkaian acara Tingalan Jumenengan Dalem, yang hari sebelumnya dilaksanakan di Pantai Parangkusumo. read more

Ombak Hadir di Labuhan Parangkusumo

Barangkali ini tulisan yang terlambat.

Tarikh 6 April 2019.

Pagi itu, hampir setahun yang lalu, saya menyusuri jalanan yang membentang dari utara ke selatan menuju Pantai Parangkusumo. Meski waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi, tapi sinar matahari sudah menyinari Yogyakarta dengan ganas.

Saya berencana mengikuti satu acara yang rutin diadakan oleh Keraton Yogyakarta tiap tahun untuk memperingati Jumenengan Dalem atau peringatan naik tahta Sultan HB X sebagai raja Kesultanan Yogyakarta. Dulu, saat ayahandanya bertahta, Labuhan diadakan untuk memperingati Wiyosan Dalem atau ulang tahun Sultan HB IX sesuai dengan kalender Jawa. Lain itu pula, labuhan adalah satu tradisi kuno yang sudah dilakukan oleh masyarakat Nusantara sebagai lantunan puji dan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi atas alam yang melimpah. read more

Malioboro di Sebuah Selasa Wage

Di sebuah sore, kala waktu matahari masih bersinar emas, saya berjalan menyusuri sebuah jalan kecil kampung yang menghubungkan Jalan Mataram dan Malioboro bernama Sosrokusuman. Pada jalanan kecil itu berjajar bangunan yang berfungsi sebagai penginapan, kios kaus dan souvenir khas Yogyakarta, dan warung makan di sisi utara dan dinding tinggi yang dilukis beragam gambar di sisi selatan.

Di sore itu, saya hendak mengikuti sebuah pesta rakyat sederhana yang diselenggarakan tiap Selasa pada pasaran wage. read more

Restu Ibu di Halimun Salak

Kala pagi di Sukabumi. Suara senda gurau samar terdengar dari kaca mobil yang sedikit terbuka. Saya keluar dari mobil setelah tiga jam tidur. Arthur, Roro, Aliza, Pras, Ferry, Ros, Andri, dan Naufal, seorang pemandu, bercengkerama di sudut halaman rumput Villa Abah, Sukabumi.

Saya berjalan ringan menghampiri sudut halaman itu yang kemudian disambut Roro dengan memperkanalkan Daffa, adiknya, kepada saya. Udara sejuk, tidak panas juga tidak dingin. Pemandangan indah terbentang di ujung lazuardi. read more