Akar dan Ranting

Jam dua dini hari. Sejak mematikan lampu kamar jam sepuluh malam, saya masih saja terjaga. Nyeri tak tertahankan terasa pada kaki kanan. Saya sadar, butuh bantuan kali ini. Dari kamar lantai atas, saya menelepon Ika yang berada di kamar bawah. Tersambung, tapi tak terangkat. Saya mengaduh dan air mata mulai menetes. Namun beberapa saat, telepon saya berdering. Dari Ika.

“Punya obat anti nyeri enggak?” ucap saya tersedu-sedu, “kakinya sakit banget.”

Cerita bermula dari satu hari sebelumnya. read more

Rupa Tanmatra

Jika tubuh manusia dibagi secara horisontal, kaki tidak akan memiliki tangan. Namun, jika secara vertikal, setiap sisinya masing-masing memiliki satu bagian tubuh. Ibu pernah berkata ketika Mandara kali pertama datang ke Yogya untuk sekolah, “Jadilah tubuh kanan Mandara, karena ia hanya memiliki bagian kiri. Seperti ketika ibu menyusuimu di sebelah kanan dan Mandara di sebelah kiri.”

Sejak saat itu, aku selalu hadir jika Mandara membutuhkanku. Aku membuatnya seimbang, sama ketika ia hampir saja jatuh ke jurang di lereng Semeru kala itu. read more

Sabda Tanmatra

Aku benci ketika Mandara tak mengindahkan pintaku untuk tidak mengambil air sendiri di Sumber Mani.

Aku melihat kabut pekat yang dihuni oleh makhluk-makhluk tak beraga yang akan menjemputnya menuju alam kematian. Karena tempat itu adalah ruang transisi antara yang tampak dan tak tampak. Yang tampak bisa menjadi tak tampak. Yang tak nampak, bisa menampakkan dirinya.

Tak bisa kubayangkan nasib Mandara andai saja Prana tak cepat menggunakan intuisinya, lalu mengajak Arka untuk segera mencari. Dan andai saja arus bawah laut yang dimiliki Rara tak mereda ketika Mandara mengalami hipotermia di Ranu Kumbolo, barangkali Mandara tak terselamatkan. read more

Rasa Tanmatra

Namanya Jaladri. Aku mengenalnya sudah lama. Mas Ladri, begitu ia biasa kusapa, adalah anak buah bapak di kantor koran harian dulu. Ia memang kerap sekali datang ke rumah. Selain di kantor, Mas Ladri juga sangat dekat secara personal dengan bapak. Ia pernah mengaku kepadaku dulu, bahwa bapak mengingatkan pada ayahnya yang dibuang ke Pulau Nusakambangan karena dituduh PKI.

Lucunya, ketika bapak memutuskan untuk pensiun dini, Mas Ladri ikut-ikut mengundurkan diri dari kantor. Alasannnya, ia merasa takkan punya guru jika bapak tidak lagi bekerja. Jadi, untuk apa ia berada di kantor? read more

Sparsa Tanmatra

Oh, aku mengerti sekarang, mengapa namaku selalu tercoret, mengapa seorang teman kecil pernah mengataiku cucu PKI kafir, dan mengapa rumah ini tidak ada botol kaca.

Ya, aku mengerti.

Kami menanggung dosa turunan. Nama kami tercatat dalam sebuah buku bersampul kuning. Bahkan bapak yang tidak ada sangkut-pautnya ikut tercatat. Aku mengerti, mengapa ia pensiun dini.

Ibu, traumanya belum juga hilang. Bahkan untuk menceritakan kepadaku dan adikku, Rara, ia menulis surat. Tak kuasa mengucap.

Surat dari seorang anak untuk ibunya paling indah yang pernah kubaca. read more

Mandara di Balik Layar

Kata orang, menulis novel itu susah. Ia harus selesai. Dari cerita bermula, sebuah novel harus menemukan jawaban.

Menulis novel sudah menjadi impian saya sejak lama. Beberapa judul pernah saya tulis. Perjalanan solo trip Flores, pun cerita tentang persahabatan remaja layaknya AADC pernah ada di laptop. Sayang, mereka tak pernah berhasil sampai titik. Sampai akhirnya saya melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Gunung itu memberi kisah dan membukakan banyak sekali kebetulan. Seolah memberi jalan, bahkan mengantarkan saya pada sejarah keluarga, yang barangkali, tak kan pernah habis ditulis, dan Indonesia punya utang yang tak kan mampu dibayar. read more

Gadis Pelantun Ovos Omnes

Langkahnya cepat seperti berlari. Antara kaki kanan dan kirinya ia ayun pendek-pendek tapi cepat. Jantungnya berdegub cepat seperti seseorang remaja yang sedang jatuh cinta.

Ia memang sedang jatuh cinta. Namun jatuh cintanya itu bukan jatuh cinta biasa seperti kepada seorang pria. Ia baru saja meninggalkan Gereja Kathedral Larantuka setelah mendapatkan berita tentang dirinya yang terpilih menjadi pelantun Ovos Omnes atau nyanyian ratapan pada perayaan Jumat Agung di Semana Santa, sebuah tradisi menjelang Paskah yang rutin tiap tahun digelar di Larantuka, tahun ini. Maka ia tak sabar ingin cepat sampai rumah untuk memberitahukan kabar baik itu kepada neneknya. read more

Dua Sisi Mata Uang Itu Bernama Sawit

Coba kalian lihat produk-produk yang ada di rumah. Di dapurmu, di kamarmu, kamar mandi, bahkan di atas meja rias. Lihat komposisi pada kemasan. Adakah tertera salah satu dari nama-nama unsur pada foto di atas? Kemungkinan besar, dan sangat besar, pasti ada.

Nama-nama asing itu adalah istilah lain untuk minyak kelapa sawit dan segala turunannya.

Minyak kelapa sawit menjadi primadona para produsen untuk meramu produk-produknya. Harganya yang murah dan beraneka guna adalah kunci minyak kelapa sawit. Seturut yang saya baca, tidak banyak, minyak sawit tidak mudah mencair dalam suhu ruangan. Baik untuk pasta gigimu. Ia juga dipilih karena bisa mengikat warna tanpa memberi rasa. Bagus untuk lipstikmu. Ia juga bisa menjadi bahan yang mampu memberi daya tahan pada suatu produk, alias bahan pengawet alami. Bagus untuk masakanmu. read more

Mimpi Bermula di Tunggilis

Kopi. Barangkali hanya ialah yang ingin saya pelajari. Bagaimana ia akan berbuah hijau lalu menguning lalu memerah dan matang. Ada cita-cita sederhana; tentang sebuah rumah kecil di tengah hutan kopi dengan pohon-pohon tinggi lain, yang ingin saya miliki, kelak.

Di Tunggilis, cita-cita itu bermula.

Taksi online yang kami tumpangi berbelok ke kiri dari Jalan Raya Puncak, menyusuri jalanan kampung nan sempit. Di beberapa sudut, warga yang sedang duduk-duduk di pinggiran jalan, terpaksa harus lebih menepi untuk mempersilakan mobil yang kami-saya, Ika, dan Mas Rey-tumpangi, bisa lewat. Tak terbayangkan oleh saya andai saja berhadapan dengan mobil lain dari arah yang berlawanan. read more

Rumah Pohon, Saksi Bisu Hutan Sarongge Melebat

Sarongge yang terik. Kami-saya, Ika, dan Mas Rey-melompat naik ke mobil bak terbuka, menumpang sampai ke pondok karyawan kebun stroberi, tujuan akhir mobil. Di hadapan kami, hamparan cokelat tanah ladang yang ditanami hijau, kuning, merah sayur dan buah. Jauh di sana, membentang Gunung Geulis, yang morfologinya seperti seorang perempuan tertidur. Sementara sudut lain, Gunung Gede dengan gelayut awan menutupi puncaknya.

Jalanan yang kami lalui berupa jalan mortar yang tidak rata. Bergelombang dan mengelupas. Wajar. Tiap hari, jalanan yang memiliki kontur itu dilalui mobil bak terbuka, mengangkut penuh hasil ladang. Di atas bak terbuka mobil tumpangan, kami duduk bergelinjang dengan pemandangan yang amatlah amboi. read more